UNCONCIOUS COLLECTIVE

Senin, 25 Desember 2017 oleh Admin ARTIKEL OPINI
UNCONCIOUS COLLECTIVE

UNCONCIOUS COLLECTIVE

UNCONSCIOUS COLLECTIVE 

Ada wartawan yang mengomentari teori unconscious collective (kejadian kriminal atau bencana berulang akibat pemberitaaan). Mereka pikir kita harus memberitakan hanya yang positif. Bukan itu maksudnya. Ini salah pengertian. Yang saya maksud, pers dalam menyajikannya harus dengan cara yang positif. Nah ini yang sulit dipahami wartawan sekarang dan g pernah dipelajari.  Saat berangkat meliput, saya yakin 100% mindset wartawan umumnya negatif. Karena falsafatnya bad news is good news. Dalam hukum alam semesta LOA (The Law of  Atraction) pikiran kita magnet yg paling kuat, dan dia akan menarik hal yg sejenis. Ini bisa dibuktikan. Magnet menarik besi, bukan plastik. Pikiran negatif menarik pikiran, situasi, kondisi yg sejenis.... NEGATIVE. 

Saat berangkat meliput, karena mindsetnya negatif, wrtawan pasti akan menemukan informasi yg negatif terus, bahkan yg positif berubah menjadi negatif.  Kekuatan pikiran bekerja sangat luar biasa. 10 tahun saya mengajarkan mind power ini, sayang media dan pemerintah tidak memerikan sukungan yang serius.
Kalau kita tahu ilmu mind power,  Jokowi gak usah mengeluarkan banyak biaya untuk program REVOLUSI MENTAL. Hasilnya akan sama saja dengan presiden sebelumnya. Pelajari saja Ilmu yang berkaitan dengan pikiran. 
Informasi negatif media menyebabkan bangsa ini sulit maju dan terus tertinggal. Tidak ada yg mengajarkan ilmu ini kepada bangsa ini. Kita terus terpuruk. Perhatikan cara televisi, khususnya TV One, I-News, kadang-kadang juga Metro TV dalam pemberitaan. Katanya wartawan menulis berita seimbang (cover both side), tapi tanpa disadari berpihak pada informasi negatif. Misalnya mewawancararai, meliput secara langsung kerusuhan massa. mewancarai sumber-sumber tidak kompeten. Dan, mari kita akui fakta di lapangan berita kerusuhan memunculkan kejadihan kerusuhan baru dan secara berantai. Begitu pemberitaan sepi, maka sesuatu kejadian sepi. Perhatikan , bulan Juli Agustus  ini saja ada sedikitnya 5 kasus kerusuhan massa, dan saya sudah duga itu, karena itu teori unconsious collective yang tersinkronisasi ke bawah sadar. Apa pun kejahatan yang diberitakan akan terjadi lagi berikutnya dalam waktu yang berdekatan. Yang lebih menarik, bahkan kecelakaan memunculkan kecelakaan yang sama atau mirip. Pesawat jatuh diiringi musibah kecelakaan yang sama atau hampir sama. Mungkin masyarakat dan pemerintah tidak bisa membuktikan dan tidak bisa berbuat apa-apa terhadap pers di era reformasi ini. Tapi saya sebagai mantan wartawan dan motivator bisa membuktikannya, di kuliah kita dulu mungkin disebut efek modelling atau domino effect. 
Jadi keliru kalau menyebut berita positif adalah media menyiarkan harus menyiarkan soft news seperti upacaya 17an, gunting pita, kriminal tidak ada. Bukan itu. Tapi lebih pada kondisi mindset wartawan, sudut pandang (angle), niat, dan pemahaman terhadap cara kerja pikiran manusia. Benar, kita tidak bisa melarang wartawan, ini zaman demokrasi, tapi kita dan pers bisa membantu mengimunisasi pikiran masyarakat. 
Wartawan tidak memberi liputan yang cukup pada upaya motivator, pemuka agama, para manggala, budayawan dalam mengubah akhlak, moral, budi pekerti dan mindset bangsa ini. Sehingga masyarakat tidak terimunisasi dari berita negatif dan tidak mampu memilih dan memilah pemberitaan yang negatif dan positif. inilah seharusnya tanggung jawab sosial pers. 
Kami telah melakukan eksperimen mendetoks pikiran dalam 30 hari, orang yang tadinya hobi menonton cek n recheck, betis, KiSS, Termehek-mehek, muntah atau mual, pusing ketika diperlihatkan acara tersebut. Jadi bukan saja tubuh manusia yang butuh vaksin tapi juga pikiran manusia. 
Tapi upaya kami memvaksin pikiran masyarakat, kalah cepat dengan upaya media merusak mentalitas masyarakat kita.  Kami memotivasi ribuan orang satu media pun tak meliput, tapi 5 orang demo di Senayan mendapat pemberitaan yang luas. Jadi kami memang kalah cepat, karena kesadaran wartawan untuk belajar mind power sangat rendah.  Wartawan merasa dirinya benar, dan orang yang tidak boleh disentuh dengan kritik. 
Semoga jawaban ini bisa membuka sedikit wawawasan wartawan Indonesia tentang ilmu pikiran, khususnya ilmu mindset.

  • Artikel Terkait

Belum Ada Komentar