Artikel Populer

SUKA DUKA MENJADI MOTIVATOR

SUKA DUKA MENJADI MOTIVATOR

Admin Selasa, 10 Juli 2018 ARTIKEL MOTIVASI
SUKA DUKA MENJADI MOTIVATOR

Pelatihan di Bandung


MIND POWER HARUS MASUK MESJID

Alfateta pernah diundang untuk memberikan pelatihan kepada pemuka masyarakat di Bandung. Pelatihan diselenggarakan oleh Pak Hani di Dezon Jl. Asia Afrika Bandung. Saat itu seluruh kursi sudah penuh. Ada ratusan orang hadir. Tamu yang pertama datang adalah dari pesantren Darul Tauhid  Aa Gym. Kemudian disusul serombongan orang dengan pakaian gamis. Bambang Prakuso menyalami mereka.

Saat akan dimulai, pak Hani berbisik kepada saya, Pak mohon hati-hati di barisan depan ini rombongan Islam ekstrim. Jadi mohon pembicaraannya jangan menyinggung hal yang membuat mereka tidak senang. Bambang Prakuso saat itu berpikir tidak ada hal yang pantas membuat mereka tersinggung. Seperti biasa, dia memberikan pelatihan sebagaimana ia juga mengajar di komunitas yang lain.

Sekitar 3 jam pelatihan usai. Serombongan orang yang dikatakan ekstrim itu mendekati saya, salam pamit, dan memeluk saya. "Seharusnya pelatihan ini masuk ke mesjid pak". Demikian kata pemimpin rombongan.  kami senang sekali.

Kami jadi teringat, 3 kali kami mendapatkan perlakukan yang sama. Ketika di Depok, ada sekelompok jemaah kebun jeruk yang ikut pelatihan kami. Selama kami mengajar mereka memotret. Dan setelah selesai mendekati kami, mengatakan maukah Alfateta mengajarkan ini di jemaah mereka? Tentu saja saya mau. Hal yang sama juga pernah terjadi di Kisaran Sumatra Utara, dan di beberapa masjid di Indonesia, termasuk di pesantren-pesantren yang ada di Indonesia.

Dalam komunikasi melalui Facebook, Bambang Prakuso pernah berkomunikasi dengan Pak Moeldoko, Kepala Unit Kerja Presiden. Beliau mengatakan sudah melakukan banyak cara untuk menekan aktivitas terorisme. Saya katakan, kita sulit menyadarkan teroris apalagi dengan Pancasila. Dengan agama pun tidak bisa, karena mereka mengikuti imam atau guru-guru mereka. Kiati macam apa pun tak akan mampu mengubah pola pikir mereka. Jika Pancasila dan agama pun tidak bisa, "Pertimbangkan mind power Pak," kata Bambang Prakuso. Pemerintah tidak banyak tahu tentang Mind power ini. Itu sebabnya kita sulit melaksanakan program Revolusi Mental.


img-1533004927.jpg

- See more at: http://alfateta.com/berjuang-di-jalur-politik-detail-400589.html#sthash.9OiVYMd4.dpuf


*Kami Dikirim Melatih di  Daerah Begal*

Benarkah bahwa kondisi masyarakat di suatu tempat dipengaruhi oleh mindset nya? Bisakah masyarakat berpikir positif walau lingkungan mereka negatif? 

Ini sebuah cerita suka duka kami memberi pelatihan selama 10 tahun.  

Saya. Amazon, bu Rini   diminta oleh sebuah partai untuk memberikan pelatihan di sekolah yang ada di dapilnya (Lampung). Salah satunya adalah Metro Lampung. Di Metro kami memberikan pelatihan kepada para pelajar kelas 3 SMA. Setelah selesai kami bermaksud untuk memberikan pelatihan di daerah Abung Timur Lampung. Daerah ini dikenal sebagai daerah begal. Orang biasanya tidak berani melintasi jalan-jalan di sana setelah pukul 16.00. Karena pelatihan kami baru selesai pukul 15.00 di Metro anak-anak sekolah di Metro mengingatkan kami untuk tidak memaksakan diri ke Abung Timur, karena di sana banyak begal. Konon guru saja mereka begal. Yang begal anak muridnya.
 
Kareena kami ingin survei sebelum kami datang ke sana, maka kami diantar dan dipandu  para pelajar Metro. Kemudian setelah sampai mereka meninggalkan kami sambil memberi pesan kalau bisa kalau tidak tahu jalan, sebaiknya jangan tanya orang. 

Esoknya kami cari sekolahnAbung Timur itu. Karena daerah itu agak asing, kami bertanya kepada 3 orang anak muda, menanyakan dimana SMA Abung Timur? Pemuda tadi melengos sambil mengatakan "Nggak tahu. Cari sendiri saja." Waduh. Dan ternyata sekolah Abung Timur itu nggak jauh dari tempat kami bertanya.

Besoknya kami memberikan pelatihan di Abung Timur. Karena ini daerah begal mereka justru curiga dengan orang yang berniat baik. Kami ingin  memberikan pelatihan atas permintaan anggota DPR di Jakarta. 

Setelah tahu bahwa kami diutus oleh seorang anggota DPR yang berasal dari dapilnya, guru tersebut mempersilakan kami masuk. Kemudian kami diizinkan  memberikan pelatihan. Kami melihat ada seorang beberapa orang wanita berpakaian persis seperti pria, yang pria juga memakai anting-anting. Kesan kami memang ini benar-benar daerah yang rawan.

Ketika kami memulai pelatihan, apa yang terjadi? Kami baru pertama kali selama bertahun-tahun, melihat anak-anak yang begitu tertib mengikuti pelatihan kami. Bahkan tidak ada satupun yang keluar ruangan untuk ke toilet ketika kami memberikan pelatihan. Semuanya diam, tidak ada yang berbicara. Wah ini sangat luar biasa dan mengagumkan. Anak-anak yang berada di daerah begal ternyata haus ilmu pengetahuan.dan motivasi. Mereka sangat antusias dan girang sekali, kami diperlakukan seperti artis. Dan kami di daulat dan diajak foto bersam.  Bukan hanya itu bahkan kami diantar keluar dari daerah Abung Timur. Setelah melepas kami,  pemereka masih mengirimkan BBM pada kami mengucapkan terima kasih.
Bambang Prakuso

img-1533008804.jpg
Ibu Santi Almarhum mengajarkan mind map (di sebuah sekolah SD di Jakarta)

img-1533008945.jpg
Bapak Amazon Dalimunthe mengajarkan mind map (di sebuah sekolah SD di Jakarta)

img-1533009122.jpg
Bapak Bambang Prakuso mengajarkan mind map (di sebuah sekolah SD di Jakarta)


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jl. Kalibata I No.,17, Pancoran, Jakarta Selatan
081380642200 / 087775477733
081380642200
surfatalfateta@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2018 ALFATETA INDONESIA. Oleh Webpraktis.com | sitemap