REVOLUSI MINDSET

REVOLUSI MINDSET ATAU MENTAL?

 Bambang Prakuso, Alfateta

Ilmu mind power memang baru tumbuh dan berkembang di Indonesia tahun 1980an. Mind power mengalami perkembangan yang luar biasa setelah tahun 2000 dengan munculnya ilmu seperti NLP (Neuro Linguistic Programming), NAC (Neuro Asociation Conditioning), Hypnoterapy, dll yang terbukti sangat diminati dan bermanfaat di tengah masyarakat untuk mengatasi masalah dalam belajar, kesehatan, kesuksesan, dan menjelaskan fenomena ghaib yang terjadi di sekitar manusia. Di tengah masyarakat ilmu ini memang terbilang mahal, sehingga rakyat kecil tidak mampu mepelajarinya.

Mengapa ilmu ini tidak dimanfaatkan oleh pemerintah? Karena pemerintah sebagai organisasi yang besar tidak mudah menerima ilmu baru. Seperti dunia kedokteran saat menerima ilmu hypnosis dan akupunktur, perlu melakukan uji klinis dalam waktu panjang.

 

Revolusi Mindset

Sebelum dan sesudah menjadi Presiden Jokowi memiliki program Revolusi Mental sebagai salah satu dari 8 Nawa Cita yang dicanangkannya. Jika Jokowi menjadi presiden dengan partisipasi swadaya dan swadana sebagian besar masyarakat, seharusnya Revolusi Mental bisa dilakukan dengan cara yang sama. Sayang sekali Revolusi Mental tidak dikomandoi langsung oleh Jokowi tetapi dilaksanakan oleh sebuah Kementerian yang kurang kreatif. Akibatnya Revolusi Mental membenani APBN dan tidak menyertakan swadana dan swadaya masyarakat.

Jika Revolusi Mental menurut Jokowi adalah Integritas, Etos Kerja, dan Gotong royong, menurut kami pendapat ini tak beda dengan konsep presiden sebelumnya, bahkan lebih lemah dibandinggkan program P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila) di era Soeharto.

Alfateta Indonesia telah memberikan pelatihan perubahan mindset sejak tahun 2007, menurut kami  Revolusi Mental seharusnya ada 4 pilar:

  1. Revolusi Mental berbasis Akhlak (agama) - Pelaksana: para pemuka agama
  2. Revolusi Mental berbasis Moral (Ideologi Pancasila)-Pelaksana: Para Manggala (pelatih Pancasila)
  3. Revolusi Mental berbasis Budi Pekerti (budaya bangsa) – Pelaksana: Para budayawan
  4. Revolusi Menal berbasis Mindset (Mind Power) – Pelaksana Para Motivator/Trainer.

 img-1487867673.jpg


Untuk mengatasi dekadensi moral, kemiskinan, kebodohan, kita tak bisa lagi mengandalkan bujukan, himbauan, nasihat kepada masyarakat, apalagi menyuruh mereka berintegritas, beretos kerja, dan bergotong royong, akan masuk terlinga kiri keluar kanan saja.  Pendekatan yang seharusnya dilakukan adalah mengajarkan perubahan Mindset dengan pendekatan logika atau mind power. Mengapa?  Karena, terbukti kaya dan miskin, jahat atau baik, bodoh atau pintar adalah persoalan Mindset. Sebuah negara menjadi besar, kuat, adi daya, kaya, disiplin bukan karena agama, ideologi, atau budaya yang mereka anut, tapi cara berpikir (mindset) yang benar. Kita punya pelajaran agama, moral Pancasila dan Budi Pekerti. Tapi Kita tidak punya pelajaran mindset berbasis Mind power.

Revolusi Mental yang ke-4 (Revolusi Mindset berbasis Mind Power) inilah yang tidak dilakukan oleh pemerintah. Akibatnya bukan saja kita sulit mengatasi dekadensi moral bangsa, tapi sulit memberdayakan pikiran manusia Indonesia. Ini merupakan ancaman bagi bangsa ini untuk bisa maju.

img-1498617233.jpg

Karena tidak bisa berharap banyak pada pemerintah, maka Alfateta Indonesia telah melakukan roadshow pendidikan change mindset berbasis mind power ke seluruh Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua. Pelatihan bersifat swadaya dan swadana. Saat memberi pelatihan di Jayapura Papua, seorang pemuda Papua, mengatakan pelatihan ini seharusnya diajarkan ke seluruh masyarakat Papua. Selama ini pemerintah Papua (seperti juga di daerah lain termasuk di Jakarta) bukan rahasia umum lagi pemerintah memberikan pelatihan hanya untuk menghabiskan anggaran yang sudah dibudgetkan.

Banyak kementerian yang menekankan pada membagi-bagi uang kepada peserta seminar daripada perlatihan yang berkualitas. Tindakan pemerintah ini bisa  merusak moral masyarakat, karena menjadi sangat tergantung belajar karena uang bukan karena ilmu.  Faktanya di lapangan bisa ditemukan orang-orang yang mata pencahariannya dari mengikuti seminar-seminar.  Ini mirip penonton inbox yang datang ke acara karena dibayar. Uang transport itu ternyata sudah disunat dulu oleh brokernya. Dan itu terjadi dalam dunia seminar.

Saya pernah diundang oleh Pemerintah  untuk mengikuti seminar. Selain bisa ngadem seharian di hotel mewah, dapat makan enak, pulangnya masih dapat uang saku dan transport lumayan besar Rp 300 ribu lebih. Ssst untuk BUMN tertentu bisa dapat Rp 500 ribu sekali datang.  Saya pernah usul ke staf kementerian penyelenggara seminar, bagaimana kalau uangnya saya kelola? Kalau dengan budget yang ada mereka dapat melatih 500 orang peserta, saya bisa 5.000 peserta dengan dana yang sama dan ilmu yang berkualitas. Mereka menjawab, dana itu sudah dibudgetkan dan harus dihabiskan. 

Apakah tindakan pemerintah di atas mendidik masyarakat? Apakah masyarakat bisa menghargai ilmu pengetahuan dengan iming-iming uang? Apakah pemerintah tidak lebih baik  membayar banyak  trainer untuk melatih banyak orang?


Dari Buku Revolusi Mental Berbasis Mindset, oleh Bambang Prakuso

Komentar

    Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar