REVOLUSI MENTAL BERBASIS SPEED READING


REVOLUSI MENTAL BERBASIS SSR

dan MIND POWER


Jika Gagal Indonesia Dalam Bahaya


(Bambang Prakuso, BSM)


img-1566924390.jpg

Bagaimana mungkin bangsa kita bisa melebihi bangsa Jepang atau Eropa kalau minat baca bangsa ini adalah yang terendah di dunia? Pak Jokowi tidak usah sibuk dan mengeluarkan uang milyaran untuk Revolusi Mental. Kuncinya cuma 1. Cuci otak (brain was)h mental bangsa ini dan 2. “paksa” masyarakat membaca. Yakinlah, dalam 5 tahun bahkan kurang, kita akan mampu mengatasi permasalahan bangsa dan mampu berpikir sejajar dengan bangsa maju di dunia.

Tidak malukah kita mendapatkan peringkat 60 dari 61 negara paling malas baca di dunia? Saya menduga masyarakat kita dan pemerintah tidak malu. Karena mereka sadar, mereka sendiri malas membaca. Jika mereka tidak berupaya meningkatkan minat dan kecepatan bangsa kita, itu sama dengan mereka juga mengajak  para generasi muda (milenial) mengikuti jejak mereka? Ini konyol sekali.

Kok berani kami menduga pemerintah tak punya gagasan luar biasa merevolusi mental melalui mendorong minat dan kecepatan baca mereka? Dasarnya ada. Alfateta Indonesia mengirim surat ke-8 Presiden Jokowi, isinya menghimbau Presiden agar mewajibkan para pejabatnya belajar SSR (Super Speed Reading). Kalau negara gak punya atau gak mudah mengeluarkan anggaran, kami berikan gratis. Kami tidak tahu, surat itu sampai atau tidak. Yang jelas penerima surat itu apakah Sekretariat Negara atau Presiden mingkem. Kami juga coba kirim surat ke Kepala Bagian Minat Baca dan Kepala Perpustakaan Nasional mengajak mereka kerjasama untuk menggalakkan minat baca. Ini pun sudah 2 minggu surat kami layangkan mingkem. Sudah dihubungi via telepon, biasa jawabannya Cuma nanti-nanti.

img-1566924418.jpg

Super Speed Reading

Tidak ada cara paling mudah merevolusi mental bangsa ini kecuali “memaksa” seluruh bangsa agar menguasai ilmu SSR (Super Speed Reading). Bukankah Jepang dalam restorasi Meiji melakukannya?  Buku asing dibajak secara besar-besaran, para pelajar dikirim ke luar negeri. Dalam waktu singkat Jepang menjadi negara sangat maju. Bahkan Jepang bangkit dalam hitungan beberapa tahun sekalipun Hiroshima dan Nagasaki hancur dibombardir. Tidak heran jika, mereka mampu membaca 12-13 buku setahun.

Revolusi Mental dengan cara mendorong minat baca dan kecepatan membaca bangsa kita sebenarnya bisa dilakukan kalau presiden mau blusukan. Blusukan di sini tidak sama dengan masuk ke got atau ke kampong-kampuang, tapi presiden mau mendengarkan suara kreatif dari masyarakat yang sebenarnya mudah ditemukan di media sosial. Apalagi presiden punya “kaki” yang mau menyampaikan suara kreatif masyarakat. Masalahnya sekarang, presiden Jokowi terlalu baik. Parcaya banget dengan menterinya. Akhirnya banyak “kaki busuk” presiden yang menjegal ide kreatif masyarakat.

Kembali ke Laptop. Kita sebenarnya bisa meningkatkan minat baca dan kecepatan baca bangsa kita berlipat ganda. Hal ini dimungkinkan dengan penemuan Alfateta Indonesia tentang SSR (Super Speed Reading), kemampuan baca sehari 5 buku. Apakah masyarakat kita, termasuk orangtua, pelajar, pengusaha, aparat pemerintah antusias untuk tahu dan belajar? Enggak juga. Mereka cuma memandang skeptik “masak sih”? Hadeh… hahaha.  Ya sudah, untung Alfateta perusahaan motivator, jadi sadar bahwa tidak boleh menyerah.

Inilah fakta tentang minat baca bangsa kita. Indonesia adalah negara nomor 2 pemilik perpustakaan terbanyak di dunia, tetapi minat dan kecepatan membaca bangsa kita dengan ASEAN saja kalah. Negara-negara ASEAN (minus Indonesia), telah mampu meningkatkan  minat bacanya di atas 50%. Sementara Indonesia berada di angka 0,001%. Kata Rhoma Irama, “ter la lu…” hihihihi.  Ketika ASEAN (minus Indonesia) mampu membaca 5 buku/tahun, Jepang 13 buku/tahun, Eropa (22 buku/tahun). Tebak, berapa buku rata-rata dalam setahun yang dibaca bangsa kita…. (Maaf jangan ketawa)… TIDAK SATUPUN. Xixixixi.

img-1566924442.jpg

Tenang Tanda Tak Mampu

Walau negeri ini disebut bangsa pemalas membaca, tampaknya semua tenang-tenang. Tenang tanda tak mampu. Tak ada gerak cepat dari pejabat pemerintah, khususnya dunia pendidikan. Tenang tenang saja. Pejabat yang berkompeten tampaknya seperti kehilangan akal meningkatkan minat baca masyarakat, Yang terjadi pemandangan menyedihkan. Tak ada lagi manusia yang membaca buku di kendaraan umum. Yang ada manusia autis memainkan gawai (HP). Dan celakanya, para orangtua, masyarakat, pendidik, dan pejabat terkait malah mendukung kemalasan membaca ini dengan sudah ada ebook, jadi buku tak lagi perlu. Wow…. Ampun deh… Ini sesat pikir. Belum tahu dia, baca ebook tak senikmat baca buku. Emang mereka mau baca ebook? Jangankan ebook, buku saja tak mau. Hobinya malah baca hoax dan tangannya gatal menyebarluaskan.

Apakah di Jepang, Eropa,Yahudi, Amerika gak ada gawai? Ada. Tapi apakah buku musnah di negara mereka? Tidak. Penulis makmur di sana, karena masyarakat tetap gemar buku. Malah kabarnya, generasi milenial Yahudi makin gila baca buku. Mereka membaca di mana tempat, di bis kota, di kereta api, bahkan di tempat senam. Jadi tidak heran jika ilmu pengetahuan mereka kuasai. Lah di Indonesia, jangankan di comuter, di perpustakaan pun pembacanya minim. Perpustakaan dianggap museum buku.

Pertanyaannya, apakah dengan kondisi semacam ini kita mau cepat berubah dan menjadi negara adi daya? Jangan mimpi. Negara kita bukan sekadar jalan di tempat, tapi juga akan mundur ketika waktu masyarakat dan milinelial kita habis untuk main game mobile legend, nonton sinetron, chat haha hihi, dan sebar sebir hoax.  Ketika orangtua, masyarakat, pendidik dan pemerintah tak mampu berbuat apa-apa… dan tak peduli ada kursus SSR (Super Speed Reading) ya sudah lah, siap-siaplah negara adi daya menjajah negeri ini dari segala sudut (ekonomi, sosial, militer, ideology, dll).

img-1566924480.jpg

Kecepatan Membaca

Kita bukan cuma rendah dalam minat baca, tapi juga dalam kecepatan membaca buku. Dalam test membaca cepat yang kami lakukan pada peserta, terbukti, kecepatan membaca siswa lulusan SD atau SMP gak jauh beda dengan mahasiwa bahkan sarjana dan doktor hanya memiliki kecepatan 200-300 kpm (kata per menit).  Ini sama dengan kita hanya mampu membaca 1 buku dalam waktu 1 bulan. Itu pun kalau si pembaca menyisihkan waktu 1 jam per hari. Pada akhirnya tak banyak manfaat buku. Diam-diam kita membunuh motivasi orang pintar di negara ini untuk menuangkan pengetahuan dan pengalamannya ke masyarakat.

Meningkatkan kecepatan membaca (SSR) otomatis meningkatkan minat baca. Jadi jelas biang keladi masalah malas baca bangsa ini, yakni ketidakmampuan meningkatkan kecepatan membaca. Mengapa mereka tidak bisa membaca cepat? Karena pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan tidak pernah mengajarkan baca cepat atau SSR ini. Jangankan siswanya, gurunya pun tidak tahu. Jangankan gurunya, kepala sekolahnya pun tak tahu. Jangankan kepala sekolah, Dinas pendidikannya pun tidak tahu. Jangankan Dinas pendidikan menteri dan presidennya pun tidak tahu. Karena tidak tahu mereka ya tidak punya ide kreatif bagaimana meningkatkan minat baca dan kecepatan membaca. Ketika tidak diajarkan, ya sudah….. kita akan selamanya menjadi negara paling malas baca di dunia. Efeknya, milenial Eropa menemukan super nova, milenial kita menemukan tuyul, wkwkwkwkwkwk.

 img-1566924530.jpg

Kita Bisa Jadi Pembaca Tercepat

Indira Gandhi, Jimmy Charter, John F. Kennedy mampu membaca dengan kecepatan 500 kpm. Mereka tercatat sebagai pembaca tercepat di dunia di zamannya. Kemampuan membaca cepat tak lepas dari penemuan terbesar di abad 19, yakni penemuan tentang kedahsyatan otak manusia. Disusul munculnya NLP (Neuro Linguistic Programming), NAC (Neuro Association Conditioning) tahun 2000an. Penemuan tentang “otak” ini telah melahirkan teknologi medis, komunikasi, transportasi dll dengan sangat luar biasa, termasuk tentang penggunakan mind power untuk pendidikan, kesuksesan, penyembuhan, bahkan memahami kekuatan supra natural dalam diri manusia dan alam semesta.

Apakah mind power, NLP, NAC, hypnoteraphy berperan dalam meningkatkan minat dan kecepatan membaca seseorang? Bisakah kita membaca melebihi pembaca tercepat di dunia yang pernah ada? Sangat bisa. Bahkan dengan teknologi SSR kita mampu membaca 800 kpm. Itu artinya dengan bantuan teknologi pikiran dan teknologi android kita bisa membaca 5 buku per hari atau 1 buku @ 200 halaman/1-2 jam. Luar biasa bukan? Rasanya memang mustahil? Tapi ini fakta dan bisa dibuktikan. Tidak heran jika pelatihan ini masuk dalam pelatihan termahal Rp 3,5 juta/hari/orang. Semurah-murahnya untuk Public Training Rp 1,5 juta. Hanya Alfateta yang demi Visi dan Missi Indonesian Dream (terciptanya masyarakat yang Cerdas, Mandiri, Sejahtera, dan Berakhlak memberikan biaya di bawah Rp 300.000/hari/orang untuk pelar SD.

Sebelum pelatihan dimulai, kecepatan membaca setiap peserta diuji. Yang tidak pernah belajar SSR atau baca cepat umumnya kecepatan membacanya di bawah 250 kpm, sekalipun itu guru atau dosen. Siswa SD dan SMP umumnya di bawah 200 kpm. Setelah pelatihan selesai, kita hitung lagi. Bisa berapa KPM setelah pelatihan?  Alfateta menggaransi minimal naik 100%. Bahkan fakta ada yang mencapai 500 kpm bahkan 800 kpm. Wuih luar biasa.

Ini adalah mitos  yang  S (salah) dan fakta yang  B (benar) tentang SSR (Super Speed Reading):

=  S: Baca cepat membuat mata lelah,  F: Justru tidak lelah

=  S: Baca Cepat cuma Bahasa promosi. F: Bisa dibuktikan hasilnya setelah pelatihan

=  S: Makin cepat baca makin cepat lupa. F: Makin lambat baca makin lupa

=  S: Hanya untuk orang pintar. F: Justru untuk orang yang tidak pintar

=  S: Baca cepat tidak dapat menikmati bacaan. F: Makin cepat justru menikmati.


Dengan SSR Anda bukan saja mampu cepat 200 halaman buku kurang dari 2 jam, tetapi juga mengingat dan mempresentasikannya.  Mengapa begitu? Karena semakin Anda cepat membaca semakin mudah paham dan ingat. Sebaliknya dengan membaca lamban semakin sulit Anda memahami sebuah buku. Jadi selain lama juga Anda sulit mengingatnya. Akibatnya makin banyak buku yang Anda baca (dengan cara lamban) semakin banyak yang Anda lupakan.

img-1566924586.jpg

Indonesia Dalam Bahaya, Kalau…

Jika revolusi mental gagal atau tidak kreatif kita laksanakan dalam 5 tahun ke depan, Indonesia dalam Bahaya. Kami tidak menakuti. Fakta, bahwa kita sulit sekali mengatasi kemiskinan, kebodohan, penyalahgunaan narkoba, korupsi, pengangguran, anarkhisme, terorisme, konsumerisme dari presiden ke presiden. Fakta dari presiden ke presiden tidak ada yang konsen pada dunia peningkatan pengetahuan dari penerbitan buku. Buktinya kertas dipajaki, buku dijual dipajaki, penulisnya dipajaki. Padahal Revolusi Mental paling mudah, murah, dan cepat adalah “memaksa” rakyat membaca buku. Untuk itu Revolusi Mental harus dibarengi dengan sosialisasi baca cepat atau SSR dengan menciptakan trainer baca cepat di tingkat desa di seluruh Indonesia.

Sebagai bahan pemikiran. Bagaimana caranya menjadi kaya dengan cepat, bagaimana caranya agar kita berusia lebih panjang, bagaimana caranya agar kita mendapatkan jodoh yang tampan atau cantic, bagaimana caranya kita bisa mempengaruhi pikiran orang…..????? jawab jawab jawab. Ya… hanya satu jawabannya, BACA BUKU! Buku adalah penuangan pengalaman, gagasan, trik seseorang. Anda tidak perlu memulai pengalaman yang baru, sebab dengan buku Anda memotong puluhan tahun untuk tidak memulai dari kesalahan. Karena itu kunci dari segala kunci kemajuan bangsa adalah BUKU!

Mari lakukan revolusi mental yang revolusioner, dengan menciptakan trainer Baca Cepat dan mengisi otak bangsa ini dengan ilmu cara membaca cepat. Inilah cara revolusi mental yang cepat,  mudah, dan murah.  


 

img-1566924622.jpg

Penulis:

Bambang Prakuso, BSM adalah pelatih utama SSR Alfateta Indonesia Mind Power Academy. www.alfateta.com


 


Bagikan Post

Artikel Terkait
Komentar
  1. Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Komentar Anda *

Nama Lengkap *

Email *

Kode Verifikasi *

Profil

ALFATETA INDONESIA

ALFATETA Indonesia adalah lembaga pelatihan perubahan mindset dan pemberdayaan pikiran yang memiliki missi Indonesian Dream, terciptanya masyarakat yang cerdas, mandiri,

Subscribe

Kategori
Artikel Populer
Video
Event Terdekat
Go to TOP