Artikel Populer

POTRET KEMISKINAN DI INDONESIA

POTRET KEMISKINAN DI INDONESIA

Admin Selasa, 05 Desember 2017 ARTIKEL OPINI
POTRET KEMISKINAN DI INDONESIA

POTRET KEMISKINAN DI INDONESIA

Bambang Prakuso Alfateta

 

Tahukah Anda berapa jumlah orang miskin di Indonesia? Menurut Anda lebih banyak mana di Indonesia, kalangan ekonomi  bawah, kalangan ekonomi menengah, atau kalangan atas?  Saya haqul yakin Anda mengatakan jauh lebih banyak orang ekonomi bawah. Mungkin di kampung Anda sendiri, sedikit sekali orang kaya. Setiap kaki melangkah yang Anda temukan orang miskin. Apalagi di tempat umum, setiap saat ada saja orang mengamen, mengemis, mengasong, dll. Kesimpulan kita, betapa banyak orang orang miskin di negeri ini.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin melalui Kompas.com  menyampaikan jumlah penduduk miskin dan sangat miskin di Indonesia terus menurun. Pada Maret 2011 tercatat  30,02 juta orang kemudian turun menjadi 29,89 juta orang pada September 2011. Patokan yang dipakai BPS dalam menghitung jumlah penduduk miskin adalah Rp 243.729. Dengan kata lain, orang miskin menurut BPS adalah orang yang penghasilannya sekitar Rp 250.000/bulan atau Rp 7.000,-/hari (patokan BPS $1 = Rp 7.500,-).

Saya percaya Anda tidak termasuk golongan ini, dan saya juga sangat yakin dengan kriteria miskin seperti yang disebutkan BPS, sebenarnya sedikit sekali orang miskin di Indonesia. Pengemis saja pendapatannya lebih dari Rp 7.500,-/hari, begitupun, para pedagang bakso, penjual jamu, pedagang keliling, pendapatan bersih mereka bisa mencapai minimal Rp 30.000,-/hari.

Lalu di mana orang miskin yang disebut pemerintah itu? Sulit juga mencari orang miskin yang pendapatannya hanya Rp 7.000,- atau di bawah Rp 250 ribu per bulan.

Kalau dengan penghasilan tersebut saja angka kemiskinan di Indonesia sudah mencapai 30 juta, berapa realitas angka kemiskinan sebetulnya di Indonesia?

Kriteria dan angka yang diajukan BPS jelaslah dibuat untuk kepentingan politis. Kalau benar-benar penghasilan Anda di atas Rp 250.000/bulan katakan Rp 300.000 per bulan BPS akan mengucapkan selamat kepada Anda, karena Anda tidak masuk kriteria miskin tapi penduduk hampir miskin (BPS pintar humor juga ya). Jadi yang dilaporkan kepada rakyat yang miskin saja. Jumlahnya 30 juta orang.  Bagaimana kalau angka Rp 7.500 kita geser ke Rp 10.000,-/hari atau Rp 300.000/bulan… Wah, pasti, pastilah jumlah penduduk miskin di Indonesia akan mencapai 2 atau 4 kali x lipat, bukan 30 juta tapi 60 juta orang, bahkan bisa mencapai lebih dari 100 juta orang.

Bank Dunia (World Bank) menyatakan pendapatan penduduk dalam katagori negara miskin adalah  $ 1,25 atau  jika kurs Rp 10.000,- = Rp 12.500/hari), untuk negara berkembang standarnya $ 2 per hari atau Rp 20.000,-. Kalau kita melihat dari perhitungan di atas, pemerintah Indonesia lucu sekali ya karena berani menempatkan diri sebagai negara yang berkembang dengan pendapatan per kapita rakyatnya Rp  7.000,- atau di bawah $ 1. Padahal menurut Bank Dunia, penghasilan masyarakat di dunia berkembang seharusnya  $ 2 per hari. Kalau menurut standard Bank Dunia, Indonesia bukan tergolong negara berkembang, bukan juga negara miskin, tetapi negara sangat miskin karena menetapkan pendapatan per kapitanya kurang dari $ 1.

Kalau kita berpikir kecil, maka hasilnya juga akan kecil. Jika kita mamatok pendapatan per kapita orang miskin di bawah $ 1 maka Indonesia akan sulit bangkit. Kalau kita mau berpikir besar (mindset besar), seharusnya pemerintah berani mematok pendapatan per kapita  orang yang disebut miskin adalah mereka yang penghasilan $2  (Rp 15.000 – Rp 20.000) per hari. Adalah tanggung jawab kita bersama bagaimana agar rakyat kita bisa meningkatkan pendapatan per kapita bangsa  kita dari Rp 7.000,-/hari menjadi Rp 15.000,-/hari.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jl. Kalibata I No.,17, Pancoran, Jakarta Selatan
081380642200 / 087775477733
081380642200
surfatalfateta@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2018 ALFATETA INDONESIA. Oleh Webpraktis.com | sitemap