MENUMBUHKAN KECANDUAN GAWAI PADA ANAK...

Artikel untuk Lomba Blog Kemendiknas. Dimuat di website  www.alfateta.com


Menumbuhkan Kecanduan Gawai pada Anak… untuk Belajar dan Pencapaian Impian


Bolehkah pelajar SD diberi gawai (gadget)? Steve Jobs menurut Wahyu Triasmara dalam tulisannya di www.kompasiana.com melarang anaknya bermain gawai. Artinya gawai tidak baik diberikan kepada ana-anak termasuk siswa SD. Ini berbeda dengan pendapat pegiat perlindungan anak dari SEJIWA, Diena Haryana, saat berbicara pada Pelatihan Duta Cinta Keluarga dengan tema Pola Asuh Berbasis Karakter di Kantor Walikota Jakarta Pusat, pada 10 April 2018. Ia mengatakan melarang anak memakai gawai rasanya tidak mungkin, apalagi menjauhkannya. Diena Haryana seperti dikutip dari www.sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id, mengatakan walau bagaimana pun anak membutuhkan gawai untuk kegiatan sekolah, menambah ilmu dan wawasan dan bergaul.di zaman internet ini.


Walau banyak motivator dan orangtua yang melarang anaknya yang masih SD memiliki gawai, saya termasuk yang tidak sependapat. Bahkan jika bisa, gawai boleh dipakai di sekolah. Saya pernah kesulitan mengajarkan mind mapping dan baca sangat cepat di sekolah karena siswa yang saya latih tidak dibolehkan membawa gawai.

Orangtua atau guru yang melarang anak atau siswanya memiliki gawai, mungkin mereka yang tidak tahu bagaimana mengendalikan gawai anaknya dan tidak memiliki solusi agar gawai itu lebih banyak manfaat daripada mudharatnya.  

Kita hidup di zaman yang berbeda. Jika anak kita di generasi Y, kita berada di generasi W, atau mungkin generasi di atasnya, generasi X. Tidaklah bijak jika kita menyamakannya kondisi di zaman “old” dan zaman “now”. Itu sama saja dengan orangtua kita melarang kita nonton TV di masa lalu. Ini zaman komunikasi kata Alvin Toffler dalam bukunya Third Wave. Tapi sebenarnya kita sudah memasuki Fourth Wave (gelombang ke-4:internet), bahkan gelombang ke-5 (otak/pikiran).

Dalam abad hypnotic learning ini, kita harus bisa berada pada posisi anak. Berpikir dari sudut mereka baru menjelaskan pola pikir kita. Bukan sebaliknya, memaksakan sudut pandang kita dengan sudut pandang mereka. Ini disebut dengan teori 69. Selama Anda melihat itu angka 6 tidak sudi mengatakan itu adalah angka 9. Sebaliknya juga begitu.  Ini soal mindset, bukan soal moral, akhlak atau budi pekerti,

Sebagai motivator yang telah melatih puluhan ribu orang sejak tahun 2007 saya banyak mengajarkan cara mengubah pola pikir.  Eksperimen yang paling mungkin untuk mempraktekkan gagasan dan ilmu adalah anak sendiri yang lahir setelah saya mempelajari ilmu tentang kekuatan pikiran (mind power). Para orangtua umumnya tidak punya ilmu tentang otak manusia dan mengubah pola pikir serta mereka sangat sibuk. Akibatnya tidak bisa mengawasi apa saja yang dilakukan oleh anaknya dengan gawainya. Seperti yang dikatakan Diena, gawai dibutuhkan untuk menyelesaikan atau mempermudah pelajaran di sekolah. Anak kita yang masih SD berkali-kali mengajukan pertanyaan yang kita sulit menjawabnya. Tidak mungkin soal dulu dan sekarang sama. Untung ada “mbah” Google. Ternyata banyak PR (pekerjaan rumah) mereka yang memang menuntut siswa mencarinya di internet. Berarti sekolah mengakui gawai itu penting buat mereka, tapi di sisi lain mereka tidak membolehkan gawai dibawa ke sekolah.

Dengan memiliki gawai mereka akan banyak bermain game, dan membuka sistus yang mengandung unsur kekerasan dan pornografi. Lebih banyak main gamenya daripada digunakan untuk pelajar. Saya pun mengalaminya. Untunglah, gawai itu hilang dicuri temannya di rumah. Sehingga dia tidak lagi bisa bermain gawai. Tak ada gawai ternyata tidak  membuatnya tambah rajin belajar.


 

Buku My Dream Pengendali Gawai

Kebetulan saya baru saja menyelesaikan buku ke-36 saya, berjudul My Dream. Ini bukan buku biasa. Sekitar 50% buku ini memuat kata bijak (wisdom word) terbaik yang pernah saya kumpulkan dalam bentuk gambar-gambar. Yang istimewa dari buku ini, di dalamnya banyak sekali formulir atau lajur-lajur yang harus diisi dan ditempeli gambar, mulai dari vision board, to do list, catatan kerja harian, dan rencana bulanan, dan formulir perubahan mindset. Dalam halaman pengantar, buku ini harus mereka baca, enungkan dan isi formulir di dalamnya kapan pun dan di mana pun. Yang lebih eksklusif lagi, buku  My Dream edisi ke-5 ini cover-nya adalah foto si pemesan atau didesain atas permintaan pemesan. Dengan demikian pemiliknya bangga membawa buku ini kemana pun. Buku dilengkapi DVD yang berisi pelatihan The Power of Dream dan kumpulan motivasi serta bukti nyata mereka yang berhasil meraih impiannya setelah membuat impian yang benar.  

Saya bukan mau promosi buku My Dream, tapi ini ada kaitannya dengan artikel ini tentang bagaimana kecanduan dawai bisa kita arahkan untuk keberhasilan seorang anak di masa depan

Dalam literasi ESP (Extra Sensory Perception) salah satu cara membangkitkan intuisi kreativitas adalah kita harus segera mencatat apa pun ide yang terlintas di pikiran kita, kapan pun dan dimanapun. Penundaan akan mengakibatkan ide hilang dan intuisi kreativitas kita lemah. Kebiasaan mencatat ide ini saya lakukan sejak saya SMA, sehingga seringkali alam bawah sadar saya menghasilkan ide-ide luar biasa. Inilah rahasia mengapa saya bisa menulis 36 buku dan lebih dari 50 modul pelatihan, serta melahirkan ide yang gila dan luar biasa.

Awalnya saya tidak pernah berpikir, buku My Dream itu akan saya buatkan untuk anak saya yang kelas-5 SD. Walau saya mengajar “amazing brain” saya tidak berpikir bahwa dia mampu memahami buku My Dream. Tapi di suatu pagi ketika bangun, intuisi saya mengirimkan perintah ke pikiran saya untuk membuatkan buku My Dream untuk anak saya.

Segera saya buatkan. Sampulnya foto dirinya sendiri. Saya coba menjelaskan kepada dia, apa itu buku My Dream. Saya perlihatkan kepadanya bagaimana cara saya mengisinya dan menempelkan gambar impian saya di sana. Saya katakan kepadanya, mulai hari ini dia harus mengisi di buku itu tentang impiannya, tulis semua pekerjaan yang sudah dilakukan di rencana harian, dan tulis semua ide yang mengalir di pikirannya dalam kolom “to do list”. Tuliskan mindset apa yang ingin diubah dalam formulir Change Mindset.  

Setelah saya berikan buku My Dream, saya ingin ia mulai membatasi diri dalam main game. Satu hari hanya boleh 1 jam. Waktu luang lainnya dibagi untuk nonton youtube yang berisi pengetahuan  “how to, termasuk menggunakan aplikasi mind mapping untuk memetakan seluruh pelajarannya di sekolah.

Semula hanya ada beberapa ide saja di sana, seperti main game hanya 1 jam, membuat mind map pelajarannya, nonton video “how to”. Satu hari satu. Saya awalnya berpikir pasti tidak banyak yang bisa dituliskan seorang anak SD dalam “to do listnya”. Ternyata setelah ia mengerjakan ia mengisi buku My Dream, banyak sekali yang harus diisi di formulir to do list. Mind map yang harus dibuatnya ternyata ada sekitar 10, sesuai jumlah mata pelajaran. Jika tiap minggu harus ada 1 mind mapping 1 pelajaran, bisa dibayangkan sesungguhnya ada puluhan mind mapping yang dia bisa kerjakan. Belum lagi menonton video youtube. Tadinya ide saya dia wajib cari dan tonton video “Cara Dapat Nilai A”. Kita tahu sifat youtube.com, kita klik satu judul maka akan muncul video “how to” sejenis, misal cara mendapat nilai A, di bawahnya cara menjadi siswa terbaik, cara menghindari lupa, dan cara belajar lainnya. Ketika ia membuka cara membuat Squish Slime, muncul video cara memanfaatkan barang bekas, dan banyak lagi. Lalu kami sama-sama catat judul-judul itu dalam “to do list”nya. Ada puluhan. Ternyata anak SD pun sudah bisa mengisi puluhan “to do list”. Agar bisa bedakan mana aktivitas yang bisa dilakukan dan tidak, maka ada kolom Prioritas. Setelah aktivitas dilakukan maka kolom “DO” dicontreng, berikut tanggal atau catatan di sebelah kanan. Ternyata tak jauh beda dengan yang saya alami, dia pun mengalami keinginan untuk mencontreng sebanyak mungkin “to do list” itu. Kita bisa memonitor sekarang bagaimana dia menggunakan gawainya. Jika kita berada di luar kota, kita juga bisa mengetahui apa yang dia lihat digawainya, karena tanpa sengaja saya melihat apa yang dibaca atau ditontonnya di gawai tercatat di tweeter.  


Pikiran Kita Dahsyat

Para ahli mengatakan, kita baru menggunakan 0,001% dari kemampuan pikiran atau otak kita. Selebihnya tertidur. Sama dengan gawai, ada puluhan ribu bahkan mungkin jutaan aplikasi di dalam gawai kita. Berapa aplikasi yang sudah kita pakai, paling tak lebih dari 20, karena RAM gawai juga tak bisa mengunduh aplikasi banyak. Jadi sesungguhnya kita baru menggunakan 0,001% dari potensi gawai yang kita miliki. Di gawai itu banyak sekali aplikasi mind mapping. Jika di Singapura dan Thailand mind mapping adalah pelajaran wajib bagi para pelajar, di Indonesia tidak. Akibatnya sekalipun kita tahu ada aplikasi mind mapping yang sangat bermanfaat untuk membantu kita dalam belajar, tidak bisa dimanfaatkan.

Stephen Covey penulis buku “7 Kebiasaan Manusia yang Efektif” mengatakan, “Pengetahuan yang kita miliki sekarang usianya hanya 2 tahun, setelahnya tinggal ¼ nya”. Nah, pengetahuan atau konten luar biasa yang ada di gawai saat ini dalam beberapa waktu saja akan sudah kedaluarsa. Kasihan juga gara-gara anak tidak boleh pegang dawai, dia baru belajar ilmu dan menggunakan aplikasi yang kedaluarsa. Atau dia tidak bisa belajar aplikasi yang baru karena aplikasi yang lama pun dia tidak tahu.


Bawa Gawai dan My Dream

Buku My Dream dan gawai sama pentingnya. Ingat bahwa intuisi kreatif yang aktif akan memunculkan ide beruntung di tempat dan waktu yang kita tidak siap. Ide itu seringkali tidak satu tapi beberapa. Jika kita tidak mencatatnya, selalu kita lupa. Betapa sayangnya ide besar menguap begitu saja. Satu sifat gagasan yang lain adalah ketika Anda mengabaikannya, maka dia akan sulit datang lagi.  

Gawai adalah alat pemicu intuisi. Ketika Anda merencanakan membuka 1 aplikasi atau video maka gawai akan memperlihatkan aplikasi atau video sejenis. Ini menjadi pemacu intuisi kita untuk melahirkan lebih banyak lagi ide yang mengarah pada semua pencapaian Anda.

Ketika saya membuatkan buku My Dream untuk anak saya yang SD, saya juga gak tahu tiba-tiba dia bisa bangun lebih pagi. Ia juga melakukan pekerjaan tidak biasa, setiap pagi tanpa disuruh ia mulai menyapu, mengepel, cuci piring bahkan memperbaiki lemari yang rusak. Saya tak habis pikir. “Semua yang Nisa kerjakan, catat di buku My Dream ya,” ujar saya pada anak saya.

Dengan buku My Dream saya bisa mengendalikan game apa yang dia mainkan, video apa yang dia tonton, mind mapping apa yang dia sudah kerjakan, aplikasi apa yang dia buka. Saya tinggal mengendalikan, memantau, membimbing dan mengawasi.

Menurut sebuah penelitian 80% lulusan SMA tidak tahu mau kemana. Mereka umumnya tak punya impian. Ini karena guru dan orangtua mereka juga dulu tak punya impian atau tak tahu bahwa ilmu tentang “dream” itu ada. Dulu orang yang berhasil dianggap factor keberuntungan, tapi di abad Otak ini, pencapaian impian adalah hasil pemikiran. “Jika kamu dilahirkan miskin, itu bukan salahmu, tapi kalau kamu mati miskin itu adalah salahmu,” demikian kata Bill Gates. Jadi siapa kita hari ini ditentukan apa yang kita pikirkan dan kita kerjakan di masa lalu. Siapa kita di masa depan adalah apa yang kita pikirkan dan kerjakan saat ini. Nasib kita yang menentukan, tapi takdir itu kuasa Tuhan. “Kita bisa mengubah siapa kita, dengan mengubah apa yang masuk dalam pikiran kita,” kata ahli pemasaran dunia Zig Ziglar. Buku My Dream adalah daftar yang kita minta, berdoa adalah cara kita meminta Tuhan agar dia mengabulkan apa yang kita pinta. “Berdoalah, maka akan Kukabulkan doa kalian,” (Al Quran). “Apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh keyakinan akan kukabulkan…. Ketuklah maka akan Aku bukakan (Injil).


img-1524052086.jpg


Daring tetap Luring

Andre Ho dalam bukunya Highway To Succes, mengatakan, "Pemborosan yang paling besar adalah di kuburan," atau ini sama dengan “Pemborosan yang paling besar adalah ketika orangtua memberi gawai tapi tidak bisa menyuruh anaknya memanfaatkan gawainya, bahkan malah membuat mreka menjadi rusak.” Dengan menyibukkan diri menggunakan aplikasi yang penting untuk sukses kita bisa lupa memanfaatkan gawai kita untuk yang kurang penting. Anak kita  akan menghabiskan waktu mengutak atik media sosial atau menghabiskan waktu ber-FB ria, ber-Line ria, ber-semule ria. Anak mungkin tidak tahu begitu banyak aplikasi yang membuat diri mereka hebat. Tahu mereka cuma game dan nonton video atau dengarkan musik. Ya jangan salahkan kalau mereka pada akhirnya membuat gawai mereka tidak bermanfaat dan cenderung merusak.

Sekalipun zaman  “now” sudah modern, internet mudah diakses, peralatan elektronik sangat canggih, berbagai karya tulis sudah paperless (tidak perlu kertas) namun tetap saja buku luring (offline) seperti My Dream dibutuhkan. Mengapa? Karena buku luring memiliki karakteristik yang berbeda dengan media atau buku ebook atau buku daring (online). Buku My Dream bisa dilihat kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Bagaimana dengan gawai? Yang jelas posisi gawai harus “on”, baterei cukup. Buku luring bisa kita tulis, tapi buku daring di gawai tidak bisa, kecuali anak Anda pegang tipe note yang bisa ditulis dengan pena stylus. ***


 

Tentang Penulis:

Bambang Prakuso

adalah pelatih utama Alfateta Indonesia. Telah menulis 35 buku, 50 modul untuk Alfateta Indonesia di bidang motivasi, kekuatan pikiran, karier, pendidika, penulisan kreatif, bahasa, dan kewirausahaan. Ia telah melatih ilmu perubahan pola pikir dan cara manusia berkualitas pada puluhan ribu orang dari Aceh sampai Papua berbagai strata sosial, pendidikan, gender, ekonomi, dll.

 

#sahabatkeluarga

Bagikan Post

Artikel Terkait
Komentar
  1. Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Komentar Anda *

Nama Lengkap *

Email *

Kode Verifikasi *

Profil

ALFATETA INDONESIA

ALFATETA Indonesia adalah lembaga pelatihan perubahan mindset dan pemberdayaan pikiran yang memiliki missi Indonesian Dream, terciptanya masyarakat yang cerdas, mandiri,

Subscribe

Kategori
Artikel Populer
Video
Event Terdekat
Go to TOP