ARTIKEL POPULER

MENGUATKAN PENDIDIKAN MEMAJUKAN KEBUDAYAAN

MENGUATKAN PENDIDIKAN MEMAJUKAN KEBUDAYAAN

Admin Jum'at, 13 April 2018 ARTIKEL OPINI
MENGUATKAN PENDIDIKAN MEMAJUKAN KEBUDAYAAN


Revolusi Mental Berbasis Mindset untuk

Menguatkan Pendidikan dan Memajukan Kebudayaan


(Bambang Prakuso Alfateta)

img-1523777579.jpg

Indonesia dalam bahaya. Kedengarannya mengerikan. Tapi faktanya demikian. Saat ini kondisi mentalitas bangsa Indonesia berada pada titik nadir. Alasannya, kita termasuk negara terkorup di Asia Pasifik, jika kita menggunakan kriteria World Bank lebih ½ penduduk kita miskin,  pengangguran mencapai 7 juta jiwa (2 juta di antaranya S1), menurut KPAI >  60% lebih remaja putri kita tidak perawan lagi (21% di antaranya pernah aborsi), Data BNN >  50 orang setiap hari tewas karena Narkoba, intoleransi,radikalisme berujung pada terorisme. Di sisi lain produktivitas tenaga kerja kita rendah, tingkat konsumerisme kita tinggi, kita mengimpor daging, gula, buah-buahan, sayuran bahkan garam. Mengapa? Apakah bangsa ini tidak berkualitas? Apa yang harus kita lakukan?

Apa yang salah dari bangsa ini? Kurikulum pendidikannya? Pendidikan  agamanya kurang? Atau karena Pancasila tidak lagi menjadi pedoman bangsa? Kalau dibilang agama tidak juga, karena  banyak mereka yang agamanya terlihat baik, korup juga.


Revolusi Mental, Revolusi Pendidikan

Benarkah ini salah pendidikan, kurang didikan agama, salah Pancasila? Apa yang harus kita lakukan? Sebelum menjawab sebabnya, saya ingin menyampaikan solusinya.  Sudah benar, Jokowi meluncurkan “Revolusi Mental”.Sayangnya, program itu tidak jelas. Sekalipun 5 Koordinator Kementerian dilibatkan, tetap saja Revolusi Mental tidak dikenal dan tidak ngefek. Segala kesalahan yang terjadi di negara ini selalu dituding bahwa Revolusi Mental gagal. Tidak ada rakyat yang tahu (termasuka nggota DPR) bahwa sesungguhnya menurut staf Kementerian PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) pendidikan Revolusi Mental bukan untuk rakyat tapi birokrat. Jadi itu sebabnya mengapa Revolusi Mental tidak ada dalam kurikulum.

Apa itu Revolusi Mental? Menurut Jokowi meliputi 3 hal: Integritas, Etos Kerja, dan Gotong Royong. Cukupkah ini? Pasti tidak. Sekalipun 100 hal didiluncurkan, Revolusi Mental sulit berhasil.  Sebenarnya 4 saja Revolusi Mental sudah cukup dan sudah paripurna. Apa 4 pilar itu:

  1. Revolusi Akhlak berbasis agama.
  2. Revolusi Moral berbasis Ideologi
  3. Revolusi Budi Pekerti berbasis Budaya
  4. Revolusi Mindset berbasis Mind Power (Kekuatan Pikiran)


img-1523777650.jpg

Setelah solusi, saya kembali menyinggung “sebab”.  Jujur jawab, “Apa yang membuat  negara maju seperti Amerika, Jepang, Belanda, Israel, Cina, India, Singapura, Korea dan negara maju lainnya disiplin, maju cara berpikirnya, loyal, pekerja keras, selalu berpikir positif? Pilih salah satu: 1. Agamanya, 2. Ideologinya, 3. Budayanya, 4. Mindset (pola pikirnya).


Seratus persen ketika itu saya lontarkan kepada siswa kelas motivasi saya, mereka mengatakan “mindsetnya”. Tidak ada satu pun yang mengatakan agama, budaya, atau ideologi mereka.  Kaya-miskin, sukses-gagal, cerdas- bodoh tidak ada kaitannya dengan agama, ideologi, atau budaya. Yang jelas terkait adalah Mindset!. Alexander Paulus dalam bukunya Your Thinking Determines Your Success mengatakan “90% kesuksesan seseorang ditentukan oleh mindsetnya”.

Mindset itu apa? Mindset tidak sama dengan akhlak, moral, dan budi pekerti. Hanya mindset yang bersifat Subyektif. Orang bijak mengatakan, tidak ada yang bisa mengubah mindset seseorang, kecuali dirinya sendiri. Mindset sebagaimana yang saya pahamkan kepada siswa kelas motivasi saya adalah “Pola pikir yang salah atau benar yang diyakini sebagai kebenaran.” Teroris Amrozi dari sudut pandang agama Islam, Pancasila, dan budaya kita salah. Tapi mengapa dia dan temannya melakukan bom bunuh diri? Karena perbuatan yang orang lain sebut salah itu benar dalam pemahamannya.

Kelemahan pendidikan kita adalaht idak ada pelajaran tentang mindset dan mind power. Mindset adalah pelajaran tentang cara mengubah pola pikir, sedangkan mind power adalah  pelajaran tentang otak manusia dan cara memberdayakannya?  Pernahkah di sekolah dulu dan sekarang kita belajar tentang neuron? Otak kiri-kanan, sadar-bawah sadar? Tidak. Padahal hidup manusia dikendalikan dari otaknya.


Berawal dari Pola Pikir

Ini adalah abad otak.  Siapa yang tidak bisa menggunakan otaknya akan kalah. Para ahli mengatakan, kita baru menggunakan 0,001% dari potensi otak kita. Selebihnya masih tertidur. Hanya bisa dibangkitkan jika mereka membaca buku tentang segalanya tentang otak dan pikiran manusia.  Kurikulum kita ketinggalan dan tak pernah menyinggung soal pemberdayaan pikiran ini. Mau bukti?

Tahun 1970-an ketika SMP pertama kali saya membaca buku Pikiran Berkuasa, karya The Liang Gie. Buku ini menjadi pintu masuk bagi saya mempelajari ilmu pikiran yang lain seperti Psychocybernetic dan hypnosis. Pemahaman terhadap otak ini pula yang kemudian membuat saya suka  membaca buku motivasi kelas dunia seperti karya Dale Carnegie, Napoleon Hill, Norman Vincent Peale, dll. Efeknya luar biasa. SMP (1979) saya memenangkan lomba karya tulis dan mendapatkan penghargaan dari Presiden Soeharto. Saya terus mempelajari ilmu pikiran yang membawa saya memenangkan beberapa kali lagi lomba karya tulis. Saat kuliah saya belajar psycho cybernetics yang membawa dapat menulis 26 judul buku dan 50 modul pemberdayaan pikiran sampai saat ini. Semakin ke dalam saya mempelajari ilmu mind power, semakin banyak saya bisa memahami banyak ilmu belum terberdayakan di Indonesia, seperti brain map, super memory, super speed reading.

Tahun 2008 saya memberikan pelatihan motivasi pada ratusan guru di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Hampir 100% guru tidak mengenal mind mapping (brain map). Padahal ilmu ini sudah diperkenalkan Tony Buzan tahun 1970-an. Pada saat yang sama mind mapping telah menjadi pelajaran wajib di Singapura dan di Thailand. Sementara Indonesia belum mengenal. Menurut para guru, Kurikulum 2013 sudah ada mind mapping, tapi faktanya buku pelajaran SD tidak bisa dimindmappingkan. Kita bukan saja tidak mengenal dan membudayakan belajar dengan mind mapping, tapi juga tidak mengenal ilmu baru dalam  mendidik otak manusia, seperti Brain Power, Mind Power, Super Speed Reading, Super Memory, Psycho Cibernetics, NLP (Neuro Linguistic Programming) NAC (Neuro Association Conditioning), Hypnoteraphy, dll. FAkta menunjukkan manfaat ilmu tersebut sangat luar biasa. Adam Kho dari Singapura awalnya adalah anak yang paling bodoh dan nakal di sekolah, bahkan sampai dikeluarkan dari sekolah. Namun berkat ilmu tersebut di atas telah mengubah ia menjadi anak yang cerdas dan telah membawa dirinya menjadi salah seorang paling kaya di dunia.

Di sebuah sekolah terkenal di Tarakan, kami dituduh menghipnosis dan menyihir seorang anak yang mampu menghapal beberapa kata dalam waktu cepat padahal selama ini anak tersebut dianggap bodoh.


Negeri Malas Baca

UNESCO menempatkan Indonesia sebagai negara paling malas baca buku di dunia. Kita berada di urutan 61 dari 63 negara yang paling malas membaca. Jika minat baca negara Asean lainnya mencapai 50%, kita masih 0,001%. Jika negara Asean lainnya membaca minimal 5 buku setahun, kita 1 buku pun tidak. Mengapa?. Bukan mereka lebih pintar, tapi mereka mengikuti ilmu modern dalam belajar.

Saat berbicara di kelas motivasi, saya bertanya, berapa buku yang telah dibaca peserta selain buku pelajaran? 99% tidak ada yang menunjuk.  Jadi benar hasil penelitian Unesco. Berapa banyak siswa, guru, dosen, karyawan yang mau baca buku? Setahun 1 judul nyaris 0. Mengapa? Ada sebab mengapa minat baca kita lemah dan lamban.

img-1523777790.jpg

img-1523777823.jpg

Ini sebabnya. Rata-rata kecepatan baca orang dewasa Indonesia adalah 250-300 KPM (Kata per Menit). Hampir sama dengan siswa SD (200-250 kpm). Jadi perlu jika kita punya waktu 1 jam/hari, diperlukan hampir 1 bulan membaca buku 300 halaman. Karena bangsa kita tidak disiplin, waktu 1 bulan seringkali tidak cukup. Perlu 6 bulan, setahun atau beberapa tahun baru bisa menyelesaikan 1 judul buku.

Berapa seharusnya kecepatan baca orang dewasa?  Indira Gandi, Jimmy Carter, Marshal Mc Luhan, mampu membaca 500 kpm. Pengetahuan membaca mereka sudah termasuk tertinggal. Dengan Super Speed Reading kita bisa membaca  1000 atau 2000 KPM. Setidaknya kita bisa baca 1 hari 5 buku atau 1 buku kurang dari 2 jam. Bahkan teknik baca sangat cepat bisa membuat orang mampu membaca 1 – 5 buku per hari (kondisi tidak sibuk). Ini disebut dengan photography Reading. Saya dalam kondisi tertentu bisa baca 20 buku dalam sehari. Tidak saja membaca, tapi mengingat dan mempresentasikan apa yang kita baca. Pertanyaannya, apa yang terjadi jika ilmu ini diajarkan kepada bangsa kita?


Penguatan Pendidikan

Menilik definisi mindset menurut saya, maka kurikulum dan budaya adalah soal mindset. Bisa jadi pejabat kita paham, kurikulum kita ada yang salah, tapi karena dibiarkan menjadi kebenaran. Seperti budaya. Ada pola pikir bersama yang salah tapi dianggap benar seperti budaya judi, pesta pora, balas dendam yang diketahui salah tapi dibiarkan, sehingga menjadi kebenaran.

Solusi atas pola pendidikan kita adalah kita harus meningkatkan kemampuan membaca bangsa kita dari pejabat sampai kaum melarat. Karena dengan banyak membaca pikiran terbuka. Kita harus berani kritis terhadap cara yang salah, dan berani berubah. Manusia dinilai dari kemampuannya untuk berubah. Charles Darwin mengatakan, “Mereka yang memenangkan masa depan bukan mereka yang kuat atau pintar, tapi mereka yang mau berubah.”

Pendidikan kita harus berani mengambil keputusan memasukan  mindset  atau mind power untuk Revolusi Mental bangsa. Ini zaman milenia, anak kita perlu penjelasan logika.  Tidak ada yang bis amengubah mindset seseorang kecuali dirinya sendiri, tidak ada cara mengajarkan cara berubah kecuali mengajarkan ilmu pikiran (mind power). Ketiadaan pelajaran mindset dan mind power membuat kita sulit menyatukan perbedaan, memberdayakan pikiran manusia Indonesia yang tertidur, dan salah dalam memprogram otak manusia. Mungkinkah dekadensi moral dan permasalahan bangsa yang ada di awal tulisan ini adalah karena salah program akibat kita tidak tahu ilmu pikiran.


img-1523778018.jpg

Jepang berubah setelah Restorasi Meji. Kaisar Jepang pada saat itu mengubah mindset bangsanya dengan melakukan program mencerdaskan bangsa.  Seluruh buku asing diterjemahkan, siswa terbaik dikirim belajar ke luar negeri, tenaga ahli didatangkan ke Jepang untuk transfer knowledge. Apa yang terjadi? Jepang menjadi negara industri raksasa. Apakah budaya Jepang hilang? Tidak. Jepang bangga dengan budayanya. Desain bangunan, interior, fashion, tidak meninggalkan ciri kebudayaan Jepang. Budaya malu yang ada pada diri para Samurai tetap lestari. Dulu demi harga diri Jepang rela hara-kiri (bunuh diri). Kini demi harga diri Para pejabat Jepang rela meninggalkan jabatannya. Mindset malu, empathy, hormat, disiplin, nasionalisme sudah ditanamkan sedini mungkin. Itulah sebabnya mengapa ketika Nagasaki dan Hiroshima luluh lantak akibat bom atom, Jepang demikian cepat membangun negaranya kembali. Bahkan mampu mengalahkan negara yang telah memporakporandakannya. Itu pula yang terjadi di Korea dan Cina. Negara Eropa dan Barat berkiblat ke Jepang dan Cina. Mereka mengakui kalah inovasi.


Penutup

Merevolusi mental bangsa ini sebenarnya gak perlu pakai ribet, mahal, dan bertele-tele. Pasok buku terbaru sebanyak-banyaknya ke perpustakaan. Pelajar wajib mengikuti kursus Ilmu Mind Power termasuk Change Mindset, Mind Mapping, Super Memory dan Super Speed Reading. Wajibkan mereka membaca 2 buku sebulan. Berikan penghargaan buat mereka yang berhasil

Yakinlah, dalam waktu kurang dari 5 tahun, bangsa kita akan sejajar cara berpikirnya dengan bangsa maju di dunia.


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jl. Kalibata I No.,17, Pancoran, Jakarta Selatan
081380642200 / 087775477733
081380642200
surfatalfateta@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2018 ALFATETA INDONESIA. Oleh Webpraktis.com | sitemap