Artikel Populer

KERUSAKAN OTAK SUMBER PETAKA

KERUSAKAN OTAK SUMBER PETAKA

Admin Selasa, 05 Desember 2017 ARTIKEL OPINI
KERUSAKAN OTAK SUMBER PETAKA

KEJAHATAN LUAR BISA SOLUSI HARUS LUAR BIASA
KERUSAKAN OTAK PENYEBAB DEKADENSI MORAL DI INDONESIA 

Pernyataan Presiden Jokowi bahwa Kejahatan Seksual adalah kejahatan luar biasa, yang diiringi dengan terbitnya Perpu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang) untuk memperberat hukuman bagi pelaku kejahatan seksual kami yakini tidaklah efektif dan tidak kreatif. 

Tidak kreatif karena yakinlah bahwa kejadian ini akan berulang. Mengapa? Karena pelakunya sebagian adalah remaja dan tergolong anak-anak. Mereka tidak tahu apa-apa, tidak doyan berita, dan tak peduli. Jangankan belajar atau tahu hukum, belajar pelajarannya sendiri pun tidak mau. 
Menarik pendapat psikolog Elly Risman dalam acara ILC (Indonesia Lawyer Club), Selasa (10/5) kasus perkosaan massal yang dihadapi Yuyun bukan masalah hukum, tapi persoalan kerusakan otak. Sejak lama para ahli otak manusia bahwa kerusakan otak yang diakibatkan oleh film atau foto porno lebih berbahaya dibandingkan dengan kerusakan otak akibat Narkoba, Para ahli menyebutnya dengan Narkolema (Narkoba lewat Mata).
Ketika Elly Risman menyampaikan pendapat ini di ILC sambal menangis, sayang para narasumber termasuk Karni Ilyas sebagai moderator tidak memahami banyak tentang neuro science. Usulan KPAI (Komisi Perlindungan Anak) dan LSM cenderung sama dengan pemikiran pemerintah, solusinya adalah hukuman yang berat. Yang dituding selalu film porno dan minuman keras, lebih jauh lagi menyalahkan oranggtua, guru dan lingkungan, sebuah alasan kuno yang terus dipakai untuk saling tuding, dan cari kambing hitam. 
Jika kita ambil contoh Yuyun, hukuman bagi pemerkosa yang disertai pembunuhan sebenarnya sudah cukup tinggi max 18 tahun. Apakah menaikkan hukuman menjadi seumur hidup, hukuman mati, sampai mengkebiri adalah solusi? Sangat tidak efektif. 
Sebagai lembaga motivasi di bidang mind power khususnya Change Mindset sejak tahun 2007 untuk semua lapisan masyarakat, kami berpendapat bahwa kerusakan otak tidak saja terjadi pada di bidang pornografi yang berbuntut perkosaan, tetapi kerusakan otak juga terjadi pada para pelau korupsi, terror, anarkhis, Narkoba, dan kejahatan biasa dan luar biasa lainnya. Jangan kaget jika kebodohan dan kemiskinan juga adalah akibat kerusakan pada otak manusia yang parah.

Kerusakan Otak
Tidak ada yang dapat mengubah mindset (pola pikir yang baik atau jahat) seseorang kecuali diri mereka sendiri. Ini menunjukkan peran orangtua, guru, lingkungan, media massa, peraturan pemerintah dll jauh lebih kecil dibanding peran cara berpikir seseorang itu sendiri. Cara yang paling efektif dan mudah mengubah mindset seseorang adalah memberikan pengetahuan cara kerja pikiran dan cara memberdayakan pikiran pada diri seseorang. Kesadaran akan muncul sendiri. Dalam pelatihan yang kami berikan orang yang ingin bunuh diri, membunuh orangtua mereka terhenti seketika di saat mereka menyadari cara kerja pikiran. Pelatihan mind power yang kami berikat terbukti mampu membuat setiap orang, dari anak-anak sampai dewasa mengubah bukan saja kebiasaan tetapi perilaku mereka. 
Mengapa seseorang memperkosa? Dapat dipastikan karena melihat gambar dan film porno. Pembiaran pada diri sendiri menonton film porno mengakibatkan pada tindakan masturbasi, berhubungan dengan pelacur, sampai melakukan perkosaan sendiri dan kemudian massal. Film pencabulan masal dengan mudah dapat diperoleh dari internet. Jika bawah sadar sudah menggerakkan libido, akal sehat dan siapa pun tak bisa menghalangi. Secara medis, neuro science atau pemahaman terhadap cara kerja bawah sadar (subconscious) kerusakan ini bisa berarti kerusakan otak secara fisik maupun secara jiwa. 
Kerusakan otak yang mengakibatkan terjadinya korupsi, penyalahgunaan Narkoba, perilaku anarkhisme, terorisme secara fisik perlu pengujian medis, tetapi secara jiwa bisa dijelaskan dan dibuktikan. Dalam ilmu pikiran atau neuro science atau mind power, kita adalah apa yang kita pikirkan. Kita sekarang adalah akibat dari pikiran kita di masa lalu, kita di masa depan adalah apa yang kita pikirkan di masa kini. Apa yang kita pikirkan dapat berubah menjadi tindakan, tindakan yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan, kebiasan menciptakan perilaku. Perilaku atau karakterlah yang menentukan nasib seseorang apakah ia akhirnya menjadi narkobais, koruptor, pemerkosa, teroris, seorang yang suka melakukan anarkhis dll. Inilah yang disebut dengan kerusakan (“kerusakan” otak dengan atau tidak dengan tanda petik). 
Siapa yang berperan dalam kerusakan otak? Jangan kaget jika penyebabnya adalah pemerintah sendiri. Untuk menjelaskan ini kita harus memahami dulu definisi mindset (definisi oleh Bambang Prakuso Alfateta). Mindset adalah cara berpikir yang salah atau benar yang diyakini sebagai kebenaran. Ketika pemerintah membiarkan pemikiran dan perilaku menyimpang masyarakat baik disengaja maupun tidak, mengakibatkan terjadinya pembenaran oleh masyarakat. Budaya tips, komisi, uang dengar, uang kaget dll, memunculkan hal semacam ini lumrah. Jika kata lumrah menjadi perilaku, maka setiap orang akan berpikir apa yang dilakukan benar (sudah menjadi rahasia umum). Begitupun dengan kasus Narkoba. Munculnya penyalahggunaan dan peredaran Narkoba karena sikap permisif atau pembiaran pemerintah. Peredaran gelap Narkoba di diskotik misalnya sudah biasa. Bagaimana dengan terorisme, radikalisme, fundamentalisme, komunisme, dan ajaran atau pemikiran menyimpang lainnya. Awalnya adalah karena mindset salah dibiarkan oleh orangtua, lingkungan, dan pemerintah. Lihat saja face book, di sana cacian, fitnah, prasangka, hasutan dibiarkan berkembang. Jika ini dibiarkan pemerintah, yang terjadi adalah pembenaran terhadap apa yang mereka pikirkan. Yang jadi masalah ketika pemikiran itu dibenarkan banyak pihak, dia akan berkembang menjadi virus yang dapat berkembang menjadi perilaku menyimpang.

Mengubah Mindset Bangsa
Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan, hukuman berat, seumur hidup, hukuman mati, kebiri bahkan di mutilasi pun tidak akan membuat kejahatan luar biasa akan berhenti. Kita harus belajar dari fakta. Media massa terus membombardir otak manusia sehingga cenderung merusak pola pikir mereka. Masyarakat tidak lagi bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang legal dan illegal. 
Berita justru jadi model. Perhatikan ketika diberitakan perkosaan secara berturut-turut akan muncul berita perkosaan. Saat media menampilkan korupsi, mutilasi, bunuh diri, napi lari, akan memunculkan peristiwa yang sama. Seperti sebuah musim atau trend. Kebetulan? Tidak. Ada 2 sebab. Yang pertama adalah modelling, yakni orang lain mencontoh. Yang kedua adalah unconscious collective yang tersinkronisasi. Kalau diberitakan kecelakaan pesawat terbang, kereta api, kapal laut, mobil akan terjadi kasus yang sama dalam waktu yang berdekatan? Kebetulan? Tidak.  Manusia punya gelombang pikiran yang akan mencari gelombang yang sama. Ini akan dijelaskan dalam ilmu mind power. 
Walaupun kami sebut media massa sebagai salah satu sumber permasalahan kerusakan otak, namun pemerintah tidak dapat memberangus media karena instink media adalah bad news is good news. Yang bisa dilakukan pemerintah dan media massa adalah memberikan pengetahuan tentang mind power agar masyarakat bisa memilih dan memilah mana berita atau acara televisi yang buruk dan baik.

Ilmu mind power memang baru tumbuh dan berkembang di Indonesia tahun 1980an. Mind power mengalami perkembangan yang luar biasa setelah tahun 2000 dengan munculnya ilmu seperti NLP (Neuro Linguistic Programming), NAC (Neuro Asociation Conditioning), Hypnoteraphy, dll yang terbukti sangat diminati dan bermanfaat di tengah masyarakat untuk mengatasi masalah dalam belajar, kesehatan, kesuksesan, menjelaskan fenomena ghaib yang terjadi di sekitar manusia. Di tengah masyarakat ilmu ini memang terbilang mahal, sehingga rakyat kecil tidak mampu mepelajarinya. 
Mengapa ilmu ini tidak dimanfaatkan oleh pemerintah? Karena pemerintah sebagai organisasi yang besar tidak mudah menerima ilmu baru. Seperti dunia kedokteran saat menerima ilmu hypnosis dan akupunktur, perlu melakukan uji klinis dalam waktu panjang. Seperti dikatakan oleh psikolog Elly Risman, banyak klinik yang menggunakan ilmu medis, neuro science dan psikologi belum memahami dan menggunakan ilmu mind power dan ilmu turunannya.

Revolusi Mindset
Sebelum dan sesudah menjadi Presiden Jokowi memiliki program Revolusi Mental sebagai salah satu dari 8 Nawa Cita yang dicanangkannya. Jika Jokowi menjadi presiden dengan partisipasi swadaya dan swadana sebagian besar masyarakat, seharusnya Revolusi Mental bisa dilakukan dengan cara yang sama. Sayang sekali Revolusi Mental tidak dikomandoi langsung oleh Jokowi tetapi dilaksanakan oleh sebuah Kementerian yang tidak kreatif. Akibatnya Revolusi Mental membenani APBN dan tidak menyertakan swadana dan swadaya masyarakat. 
Jika Revolusi mental menurut Jokowi adalah Integritas, Etos Kerja, dan Gotong royong, menurut kami pendapat ini tak beda dengan konsep presiden sebelumnya, bahkan lebih lemah dibandinggkan program P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila) di era Soeharto. 
Alfateta Indonesia telah memberikan pelatihan perubahan mindset sejak tahun 2007, menurut kami  Revolusi Mental seharusnya ada 4 pilar:

1. Revolusi Mental berbasis Akhlak (agama) --- Pelaksana: para pemuka agama
2. Revolusi Mental berbasis Moral (Ideologi Pancasila)— Pelaksana: Para Manggala (pelatih Pancasila)
3. Revolusi Mental berbasis Budi Pekerti (budaya bangsa) – Pelaksana: Para budayawan 
4. Revolusi Menal berbasis Mindset (Mind Power) – Pelaksana Para Motivator/Trainer

Untuk mengatasi dekadensi moral, kemiskinan, kebodohan, kita tak bisa lagi mengandalkan bujukan, himbauan, nasihat kepada masyarakat, apalagi menyuruh mereka berintegritas, beretos kerja, dan bergotong royong, akan masuk terlinga kiri keluar kanan saja.  Pendekatan yang seharusnya dilakukan adalah mengajarkan perubahan Mindset dengan pendekatan logika atau mind power. Mengapa?  Karena, terbukti kaya dan miskin, jahat atau baik, bodoh atau pintar adalah persoalan Mindset. Sebuah negara menjadi besar, kuat, adi daya, kaya, disiplin bukan karena agama, ideology, atau budaya yang mereka anut, tapi cara berpikir yang benar. Kita punya pelajaran agama, moral Pancasila dan Budi Pekerti. Tapi Kita tidak punya pelajaran mindset berbasis Mind power.
Revolusi Mental yang ke-4 (Revolusi Mindset berbasis Mind Power) inilah yang tidak dilakukan oleh pemerintah. Akibatnya bukan saja kita sulit mengatasi dekadensi moral bangsa, tapi sulit memberdayakan pikiran manusia Indonesia. Ini merupakan ancaman. 
Karena tidak bisa berharap banyak pada pemerintah, maka Alfateta Indonesia telah melakukan roadshow pendidikan change mindset berbasis mind power ke seluruh Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua. Pelatihan bersifat swadaya dan swadana. Saat memberi pelatihan di Jayapura Papua, seorang pemuda Pepua, mengatakan pelatihan ini seharusnya diajarkan ke seluruh masyarakat Papua. Selama ini pemerintah Papua (seperti juga di daerah lain) memberikan pelatihan hanya untuk menghabiskan anggaran. Pemerintah membagi-bagi uang kepada para peserta seminar dan kurang memberikan dukungan terhadap pelatihan yang berkualitas yang umumnya diselenggarakan swasta. Tindakan pemerintah ini sesungguhnya merusak moral masyarakat karena menjadi sangat tergantung belajar karena uang bukan karena ilmu. 
Tidak ada yang dapat mengubah mindset seseorang kecuali dirinya sendiri. Tidak ada cara mudah mengubah mentalitas seorang kecuali mengajarkan kepada mereka ilmu pikiran (ilmu mind power).  Untuk menyebarluaskan ilmu ini secepatnya maka Alfateta Indonesia menciptakan program Indonesian Dream (menciptakan masyarakat yang cerdas, mandiri, sejahtera, dan berakhlak). Programnya adalah menciptakan 2 trainer di tiap kabupaten. Tiap trainer wajib mengajarkan ilmu mind power dasar untuk masyarakat. Untuk pelajar termasuk aplikasinya seperti cara meraih nilai A, mind mapping, super memory, cara baca sangat cepat, dll. Untuk perusahaan Menciptakan Harmonisasi Hubungan Industrial, untuk masyarakat misalnya Sukses Itu Pilihan, Rahasia Dapat  Modal, Cara Jitu Melamar Kerja, Kewirausahaan, Internet Marketing, Smart Parenting, dll. 
Alfateta hidup dengan swadana dan swadaya masyarakat. Alfateta telah berhasil mendidik masyarakat untuk menghargai ilmu pengetahuan. Walau cuma Rp 10.000 atau Rp 20.000 peserta harus bayar. Dengan menciptakan 2 pelatih di tiap kabupaten, Alfateta bisa menekan biaya seminimal mungkin, karena tidak harus mendatangkan pelatih senior dan dari Jakarta. 
Alateta juga mengajak para calon peserta Pilkada untuk mengubah kampanyenya dari bagi-bagi kaos, nasi bungkus, uang tunai menjadi bagi-bagi ilmu pengetahuan untuk mengubah mindset. Banyak sekali calon peserta Pilkada yang tidak yakin masyarakat mau belajar. Pemikiran ini sama dengan para birokrat. Faktanya kami pernah memenangkan seorang kandidat Legislatif dengan cara memberikan pelatihan bermanfaat ke sekolah-sekolah. Seorang anggota DPR juga pernah mengutus kami memberikan pelatihan perubahan mindset di sebuah daerah terkenal banyak begalnya di daerah Sumatra. Masyarakat dan pemerintah yang semula pesimis bahwa daerah itu mau disentuh motivasi kaget karena para pelajar di daerah itu justru paling tertib saat mengikuti pelatihan Alfateta. Sejak itu Alfateta mendapat kepercayaan memberikan mottivasi pada pelajar seperti di Yogya, Jaya Tengah, dan Lampung. Dan partai itu akhirnya 
Pelatihan yg bermanfaat dan berkualitas dan langsung mengena serta bisa dipahami oleh masyarakat  adalah kunci masyarakat miskin pun mau mendengarkan motivasi bahkan mau membayar pelatihan. Kalau mereka dibayar, akan rusakkalh moralitas masayrakat itu. Jika pemerintah meneruskan tradisi lama melakukan seminar  dengan bagi-bagi uang untuk peserta seminar, percayalah bangsa ini cuma buang-buang uang dan waktu.

Siap Tidak Siap Harus Berubah!
Untuk mencegah kerusakan otak lebih parah, semua pihak khususnya pemerintah, sebaiknya mempertimbangkan solusi dengan pendekatan pendidikan mind power kepada masyarakat. Dengan pengetahuan ini diharapkan pikiran masyarakat kita menyadari sendiri bagaimana cara mengubah pikiran negatif menjadi positif. Jangan biarkan masyarakat kita mencerna informasi yang negative menjadi pemikiran yang salah kemudian dibiarkan. Pemerintah akan menghadapi permasalahan kejahatan yang sangat parah yang menghambat percepatan pembangunan.
Ide ini sudah disampaikan oleh Alfateta sejak Presiden SBY. Hampir setiap tahun Alfateta melaporkan dan mengusulkan program perubahan mindset ini, tapi sampai beliau lengser surat Alfateta tidak pernah ditanggapi. Bahkan di masa Jokowi, sedikitnya Alfateta sudah mengirimkan 3 kali, dan juga tidak ada respon yang positif. 
Charles Darwin mengatakan, bangsa yang bisa menjadi pemenang bukan bangsa yang kuat, bukan bangsa yang cerdas, bukan bangsa yang kaya, tapi bangsa yang mau berubah. Apakah bangsa ini masih mau berpikir itu-itu saja dan tidak pernah mau berubah? Jawaban berpulang pada setiap orang, masyarakat dan pemerintah. Sukses (nasib) adalah pilihan… Bukan takdir. Siap tidak siap setiap orang harus berubah, jika tidak ingin kalah.

---------
Alfateta Indonesia adalah sebuah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan pelatihan di bidang perubahan mindset, pemberdayaan pikiran, dan keterampilan berpikir manusia. Alfateta memiliki visi dan missi Indonesian Dream (terciptanya masyarakat yang cerdas, mandiri, sejahtera dan berakhlak). Alfateta Indonesia telah memberikan pelatihan perubahan mindset sejak tahun 2007 dari Aceh sampai Papua. Sasaran pelatihan meliputi semua lapisan masyarakat. Alfateta Indonesia dipimpin oleh Bambang Prakuso (hp 081380642200), mantan jurnalis, penulis 32 buku, pelatih yang telah melanglang buana ke seluruh Indonensia dan kini  sedang menurunkannya kepada 2 motivator di seluruh kabupaten di Indonesia. Alfateta juga telah mendirikan ATMINDO (Aliansi Trainer dan Motivator Indonesia) yang mengumpulkan para motivator dan trainer senior, mengumpulkan para donator, pemilik fasilitas tempat dll untuk bersama sama melakukan Revolusi Mindset bagi masyarakat Indonesia untuk mempercepat merealisasikan Indonesian Dream (Terciptanya Masyarakat yang Cerdas, Mandiri, Sejahtera dan Berakhlak). Email: alfateta2007@yahoo.co.id. www.alfateta.com.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jl. Kalibata I No.,17, Pancoran, Jakarta Selatan
081380642200 / 087775477733
081380642200
surfatalfateta@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2018 ALFATETA INDONESIA. Oleh Webpraktis.com | sitemap