Artikel Populer

KEJAHATAN SEKS

KEJAHATAN SEKS

Admin Minggu, 03 Desember 2017 ARTIKEL OPINI
KEJAHATAN SEKS

KERUSAKAN OTAK PENYEBAB KEJAHATAN SEKS

 

Yuyun (14 tahun), tewas setelah diperkosa 14 pemuda di Bengkulu bulan (18/3) Kasus ini adalah 1 dari kasus perkosaan massal di Indonesia yang muncul secara berantai di bulan Mei 2013. Tentu saja peristiwa ini sangat memilukan bagi seluruh bangsa Indonesia. Betapa bejatnya moral sebagian bangsa kita? Salah siapa? Orangtua, guru, pemerintah, LSM, aparat penegak hukum?

Kasus di atas bukan yang pertama di negeri ini. Kasus ini selalu berulang dan pemerintah tidak pernah punya cara kreatif untuk menananginya. Ketika diberitakan kasus perkosaan di kendaraan umum, dalam waktu hampir berdekatan terjadi kasus yang sama. Ketika diberitakan kasus Jagal Ryan dan Robot Gedeg, terjadi kasus yang sama dalam waktu berdekatan. Dalam komunikasi ini disebut dengan modelling efect (peniruan). Carl Jung menyebut ini sebagai efek unconscious yang tersinkronisasi. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi merupakan bahasan Ilmu Mind Power. 

Tindakan pemerintah selalu curative (mengatasi) dari pada preventive (pencegahan).  Silakan buka kliping atau cari melalui google.com kasus perkosaan adalah kisah klasik yang terus berulang. Dalam buku Kasus Kejahatan Seks (Hukum atau Keadilan) penerbit Antar Kota Jakarta (1985), saya mengumpulkan dan menganalisis kasus perkosaan yang terjadi di Indonesia. Di sana termuat berita-berita perkosaan yang  hampir tidak masuk akal., tetapi terjadi. Dan kasusnya berulang. Anehnya penanganan pihak aparat dan semua pihak yang terkait di kasus  ini selalu lagu lama, tidak kreatif. Ujungnya cuma menyenangkan rakyat dengan solusi menaikkan atau memperberat hukuman bagi pelaku perkosaan. Faktanya, hakim dengan dalihnya sendiri menghubukum ringan pemerkosa, apalagi pelakunya “orang the haves”. Hampir tidak ada yang diberikan sanksi hukuman sangat berat. Bisa dipahami jalan pikiran hakim, berlindung dibalik HAM (Hak Azasi Manusia).

Pernyataan Presiden Jokowi menanggapi kasus Yuyun dengan mengatakan Kejahatan Seksual adalah kejahatan luar biasa dan kemudian mengeluarkan Perpu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang) untuk memperberat hukuman bagi pelaku kejahatan seksual merupakan bukti para pejabat kita selalu curative dan tidak memiliki kreativitas mengatasi permasalahan bangsa ini. Pemikiran para hakim mungkin benar, bahwa haruskah kita menghukum berat para pelaku kejahatan luar biasa (termasuk koruptor, teroris, narkobais) dengan hukuman yang membuat mereka tak lagi punya harapan untuk memperbaiki diri? Belasan, puluhan, bahkan ratusan pemuda kita mungkin akan dihukum seumur hidup dan dikebiri (karena memperkosa). Negara mengcabut hak manusia untuk memiliki keturunan hak untuk hidup atau hak bertobat.

ILC (Indonesian Lawyers Club) pernah menurunkan berita kasus  sodomi di JIS (Jakarta International School) dan kasus Yuyun. Perhatikan hampir seluruh nara sumber baik aparat keamanan, LSM, komisi perlindungan anak dan perempuan, komisi hak azasi manusia, komisi perempuan, pemerintah, para pengamat, para ahli hukum sibuk saling tuding, saling menyalahkan, saling cari kambing hitam. Lalu ujungnya minta hukum pemerkosa ditingkatkan. Hal yang sama terjadi pada kasus ramainya korupsi, teroris, anarkhis, narkobais, dll.

 

Potret  Seks Bebas Remaja

Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring pernah memberikan pernyataan yang sangat mengejutkan, berdasarkan hasil penelitian departemennya 97% pelajar kita pernah melihat film dan foto porno dari internet. Bagaimana dengan anak Anda? Ya di rumah mungkin tidak, tetapi ia bisa melihat foto dan film porno lewat HP temannya dan lewat internet. "Anak saya main game, tidak membuka situs porno," bela sebagian orangtua. Tapi tahukah Anda  dalam sebuah seminar tentang neuroscience yang diselenggarakan Depkes xxx terungkap ada game mengajarkan tindakan lebih brutal daripada sekadar melihat web porno. Game yang tanpa disadari mengajarkan kepada  mereka melakukan tindakan brutal seperti memperkosa wanita di tengah orang ramai. 

Dalam seminar di Depkes itu juga terungkap ada penelitian yang mengatakan kebiasaan melihat foto dan menonton film porno bisa memuculkan penyakit syaraf (addict). Sebagian menjadi pengkhayal porno, sebagian mempraktekkannya dengan teman sepermainan atau pelacur.

Fakta penelitian yang dimunculkan Cybernews sangat mengejutkan kita. Film dan foto porno telah mengakibatkan maraknya seks bebas, perkosaan, hamil di luar nikah dan bunuh diri. Cybernews juga melaporkan 62,7% remaja SMP mengaku tidak perawan lagi. 21,2% remaja putri Indonesia pernah aborsi. 

Beberapa waktu lalu Ormas Islam menantang kedatangan Lady Gaga karena dianggap berpakaian tidak sopan dan dianggap sebagai porno aksi. Lalu orang menilai, kita bagai melihat semut di seberang lautan tapi tidak melihat gajah di pelupuk mata. Di kota dan desa musik organ tunggal mempertontonkan porno aksi yang tak pantas dilihat anak-anak dibiarkan. Dalam bulan Juni 2012 saya mendapatkan kiriman BBM berupa film yang isinya adalah pertunjukan organ tunggal di mana dua penyanyinya (maaf) membuka dadanya yang telanjang dan membiarkan penonton memegangnya sementara anak kecil usia SD menonton seperti sudah biasa. Sebenarnya pemain sebagaian organ tunggal di negeri ini jauh lebih parah dibandingkan dengan Lady Gaga.

Kita tak bisa menyangkal atau membatasi kemajuan teknologi, internet, penerbitan buku dan majalah. Kita juga tidak bisa seharian mengawasi anak kita dalam menggunakan HP dan internet. Yang bisa kita lakukan hanyalah membentengi mental anak-anak dengan pengetahuan tentang Mindset, jika pelajaran agama,  Pancasila, dan budi pekerti  tak lagi mempan.

 

Haruskah Dihukum Mati?

Reaktif dan kurang kreatif dalam memecahkan masalah, merupakan ciri dari siapa pun pengambil keputusan di negeri ini. Pemerintah cermin masyarakat, masyarakat cermin pemerintah. Hal semacam inilah yang membuat sebuah kejadian kriminalitas akan terjadi berulang-ulang. Ketika kasus perkosaan tidak mempan dengan ancaman hukuman, maka semua orang akan ramai-ramai menyalahkan pemerintah karena sikap yang  lebih mengutamakan pemberantasan daripada pencegahan.

Mengapa tindakan memberi hukuman bagi pelaku kejahatan seksual setinggi-tingginya merupakan tindakan reaktif dan kurang kreatif?  Karena pelakunya sebagian besar adalah remaja dan tergolong anak-anak.  Tayangan berita kriminal bukannya dapat mencegah malah menjadi modelling (contoh). Mereka juga tidak  peduli apa pun rencana pemerintah, mau menaikkan hukuman, mau mengkebiri, dll... EGP (emang gue pikiran) pikir mereka.  Jangankan peduli tentang hukum, peduli pada pelajarannya sendiri susahnya bukan main. 

Bukan hukuman itu yang mencegah mereka memperkosa, tapi ketidaktahuan mereka tentang cara kerja pikiran mereka ditambah pembiaran semua pihak untuk mencegah merupakan pangkal sebabnya.

Menakuti para remaja atau pemuda dengan hukum tidaklah efektif. Pengalaman kami melatih change mindset untuk pelajar, dari 100 siswa tidak 1 pun membaca buku non fiksi non buku teks dalam 1 tahun). Remaja cenderung suka nonton sinetron, film action, atau menonton video streaming dari internet). Orangtua dan guru bukan membiarkan, tapi tidak tahu atau seringkali sulit untiuk bisa tahu. soal komputer dan internet mereka adalah gurunya orangtua atau guru.    Ketika pemikiran mereka sudah rusak, mereka tidak tahu bagaimana memeprbaikinya. sekolah tidak mengajarkan cara mengatasinya. Agama, ajaran budi pekerti, dan moral Pancasila dianggap dogma yang pengajarannya dianggap tidak menarik dan ketinggalan zaman. 

 

Kerusakan Otak dan Mind Power

Menarik pendapat psikolog Elly Risman dalam acara ILC (Indonesia Lawyer Club), Selasa (10/5), menurutnya kasus perkosaan massal yang dihadapi Yuyun bukan masalah hukum, tapi persoalan kerusakan otak. Ketika Elly Risman menyampaikan pendapat ini di ILC sambil menangis, sayang para naras umber termasuk Karni Ilyas sebagai modertor tidak memahami banyak tentang neuro science apalagi mind power.  Elly Risman sekalipun seorang psikolog terkenal, namun apa yang disarankannya seringkali tidak diapahami dan diaukui oleh pihak Kementerian Kesehatan dan klinik-klinik kesehatan.

Usulan KPAI (Komisi Perlindungan Anak) dan LSM cenderung sama dengan pemikiran pemerintah, solusinya adalah hukuman yang berat. Yang dituding selalu film porno dan minuman keras, lebih jauh lagi menyalahkan oranggtua, guru dan lingkungan, sebuah alasan kuno yang terus dipakai untuk saling tuding, dan cari kambing hitam.  Benar film porno, minuman keras bisa memicu terjadinya perkosaan. Tapi benda-benda itu adalah  “antara” atau pemicu. Persoalan sebenarnya ada di pikiran manusia. Sebuah tindakan terjadi karena ada pemikiran. Pemikiran terjadi karena adanya informasi yang terus dibiarkan masuk secara berulang-ulang tanpa disadari sang pelaku. 

Hukuman bagi pemerkosa yang disertai pembunuhan sebenarnya sudah cukup tinggi di KUHP yakni max 18 tahun. Apakah menaikkan hukuman menjadi seumur hidup, hukuman mati, sampai mengkebiri adalah solusi? adalah solusi paling baik yang bisa dipikirkan oleh banyak orang pintar di Indonesia?

Sebagai seorang psikolog terkemuka, Elly Risman tentu tidak bicara sembarangan tanpa bukti.  Film BF bisa menyebabkan kerusakan otak, sebenarnya bukan hal yang baru. Masyarakat mengenalnya sebagai Narkolema (Narkoba Lewat Mata). Konon kerusakan otak yang diakibatkan oleh film porno jauh lebih hebat dibandingkan oleh kerusakan otak karena Narkoba.

Ahli bedah saraf dari San Antonio, AS, Donald Hilton Jr MD yang pernah di datangkan ke Indonesia. Ia datang dengan membawa bukti berupa hasil penelitian dan foto otak orang yang rusak dikarenakan Film porno. Film porno dapat menciptakan adiksi (kecanduan) yang terus meningkat dan bervariasi.

Sebagai lembaga motivasi di bidang mind power khususnya Change Mindset sejak tahun 2007 untuk semua lapisan masyarakat, kami berpendapat bahwa kerusakan otak tidak saja terjadi pada di bidang pornografi yang berbuntut perkosaan, tetapi kerusakan otak juga terjadi pada para pelaku korupsi, terror, anarkhis, Narkoba, dan kejahatan biasa dan luar biasa lainnya. Jangan kaget jika kebodohan dan kemiskinan juga adalah akibat kerusakan pada otak manusia yang parah.

img-1487868480.jpg

Mengapa Memperkosa

Mengapa seseorang memperkosa? Dapat dipastikan karena melihat gambar dan film porno. Pembiaran pada diri sendiri menonton film porno mengakibatkan pada tindakan masturbasi, berhubungan dengan pelacur, sampai melakukan perkosaan sendiri dan kemudian massal. Pikiran manusia selalu bereksperiman ingin lebih dan lebih. Jika tindakan perkosaan normal sudah biasa, maka mereka ingin tindakan yang tidak bisa, menyiksa, atau membunuh korbannya. Terutama bagi mereka yang mencapai kerusakan otak tingkat schizoprenia.

Akal waras atau pikiran sadar manusia dengan mudah dikalahkan oleh pikiran bawah sadar (unconscious) yang kekuatannya 85% atau 300 kali  keluatan pikiran sadar (conscious). Ketidaktahuan akan ilmu tentang pikiran, membuat masyarakat umumnya tidak memahami mencegah pemikiran negatif sejak awal. Tanpa pengetahuan mind power pikiran negatif dengan mudah membobol critical area atau Reticulary Activavation System (RAS) yang ada di antara pikiran sadar dan bawah sadar. Hantaman berita tentang perkosaan dan kasus kriminal lainnya di media serta pembodohan televisi dengan tayangannya yang buruk membombadir RAS ini sehingga masuk ke alam bawah sadar. Hukum pikiran adalah informasi salah yang terus menerus masuk ke alam pikiran bawah sadar akan menjadi kebenaran. Siapa pun yang mengatakan apa yag dilakukan itu salah, bawah sadar akan menolak, dan mengatakan perbuatan salah itu adalah kebenaran. Para pemerkosa Yusun dikabarkan tidak merasa bersalah dan menyesal, seperti para koruptor, pengedar gelap Narkoba, pelaku anarkhis, teroris, tidak pernah akan merasa diri mereka bersalah. Mereka justru menyalahkan orang lain.

Film porno dengan segala versi dengan mudah dapat diperoleh dari internet. Jika bawah sadar sudah menggerakkan libido, akal sehat dan siapa pun tak bisa menghalangi. Bahkan ancaman hukuman matipun tak akan mampu mencegahnya.

Secara medis, neuro science atau pemahaman terhadap cara kerja bawah sadar (subconscious) kerusakan otak ini bisa diartikan kerusakan secara fisik maupun secara jiwa. Tak ada yang bisa mengubah mindset mereka sejak awal. ketidaktahuan terhadap ilmu mind power inilah yang mengakibatkan mereka yang aqidahnya baik, pemahaman terhadap Pancasila dan budi pekerti baik mengalami dekadensi moral terjerumus melakukan kejahatan dan.

Kerusakan otak yang mengakibatkan terjadinya korupsi, penyalahgunaan Narkoba, perilaku anarkhisme, terorisme secara fisik perlu pengujian medis, tetapi secara jiwa bisa dijelaskan dan dibuktikan. Dalam ilmu pikiran atau neuro science atau mind power, kita adalah apa yang kita pikirkan. Kita sekarang adalah akibat dari pikiran kita di masa lalu. Kita di masa depan adalah apa yang kita pikirkan di masa kini. Apa yang kita pikirkan dapat berubah menjadi tindakan, tindakan yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan, kebiasan menciptakan perilaku. Perilaku atau karakterlah yang menentukan nasib seseorang apakah ia akhirnya menjadi narkobais, koruptor, pemerkosa, teroris, seorang yang suka melakukan anarkhis dll. Inilah yang disebut dengan kerusakan (“kerusakan” otak dengan atau tidak dengan tanda petik. Siapa yang berperan dalam kerusakan otak? Jangan kaget jika salah satu penyebabnya adalah pemerintah sendiri. 

 

Cara Berpikir Salah

Apakah mindset? Banyak orang mengatakan “pola pikir”. Betul sih, tapi itu bukan definisi, itu adalah sinonim (persamaan kata). Saya mencari definisi mindset termasuk di google.com tapi sangat tidak memuaskan. Setelah 5 tahun saya melatih “ilmu mindset” barulah saya menyimpulkan definisi mindset.

Definisi Mindset yang saya kami simpulkan, Mindset adalah cara berpikir yang salah atau benar yang diyakini sebagai kebenaran. Ketika pemerintah membiarkan pemikiran dan perilaku menyimpang masyarakat baik disengaja maupun tidak, mengakibatkan terjadinya pembenaran oleh masyarakat. Budaya tips, komisi, uang dengar, uang kaget dll, memunculkan hal semacam ini lumrah. Jika kata lumrah menjadi perilaku, maka setiap orang akan berpikir apa yang dilakukan benar (sudah menjadi rahasia umum).

Begitupun dengan kasus Narkoba. Munculnya penyalahggunaan dan peredaran Narkoba karena sikap permisif atau pembiaran orangtua, masyarakat dan pemerintah. Peredaran gelap Narkoba di diskotik misalnya sudah biasa. Bagaimana dengan terorisme, radikalisme, fundamentalisme, komunisme, dan ajaran atau pemikiran menyimpang lainnya.? Awalnya adalah karena mindset salah dibiarkan oleh orangtua, lingkungan, dan pemerintah. Lihat saja facebook, di sana cacian, fitnah, prasangka, hasutan dibiarkan berkembang. Sadarkah para intelijen, bahwa hal itu adalah racun yang akan meledak pada satu waktu. Jika ini dibiarkan pemerintah, yang terjadi adalah pembenaran terhadap apa yang mereka pikirkan. Yang jadi masalah ketika pemikiran itu dibenarkan banyak pihak, dia akan berkembang menjadi virus yang dapat berkembang menjadi perilaku menyimpang.

Bad News Is Good News

Dapat disimpulkan hukuman berat, seumur hidup, hukuman mati, kebiri bahkan mutilasi pun  bukanlah solusi. Hukuman yang tinggi tidak akan membuat kejahatan luar biasa akan berhenti. Sudah banyak buktinya, para koruptor dan pengedar Narkoba tidak pernah kapok, malah semakin menjadi-jadi. Bahkan yang luar biasa, peredaran gelap Narkoba dikendalikan dari penjara. Ini karena pemerintah selalu berkutat di hilir (curative) tidak pernah mengetahui cara mengubah hulu (preventive). Kita harus belajar dari fakta. Media massa terus membombardir otak manusia sehingga cenderung merusak pola pikir mereka. Masyarakat tidak lagi bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang benar.

Berita justru jadi model (contoh). Perhatikan ketika diberitakan perkosaan secara berturut-turut akan muncul kasus dan berita perkosaan. Saat media menampilkan korupsi, mutilasi, bunuh diri, napi kabur, akan memunculkan peristiwa yang sama. Seperti sebuah musim atau trend. Kebetulan? Tidak. Ada 2 sebab mengapa terjadi efek domino. Yang pertama adalah modelling, yakni orang lain mencontoh. Yang kedua adalah unconscious collective yang tersinkronisasi. Kalau diberitakan kecelakaan pesawat terbang, kereta api, kapal laut, mobil akan terjadi kasus yang sama dalam waktu yang berdekatan? Kebetulan? Tidak.  Manusia punya gelombang pikiran yang akan mencari gelombang yang sama. Ini akan dijelaskan dalam ilmu mind power.

Walaupun kami sebut media massa sebagai salah satu sumber permasalahan kerusakan otak, namun pemerintah tidak dapat memberangus media karena instink media adalah bad news is good news. Yang bisa dilakukan pemerintah dan media massa adalah memberikan pengetahuan tentang mind power agar masyarakat bisa memilih dan memilah mana berita atau acara televisi yang buruk dan baik.

 

Siap Tidak Siap Kita Harus Berubah

Untuk mencegah kerusakan otak lebih parah, semua pihak khususnya pemerintah, sebaiknya mempertimbangkan solusi dengan pendekatan pendidikan mind power kepada masyarakat. Dengan pengetahuan ini diharapkan masyarakat kita menyadari sendiri bagaimana cara mengubah pikiran negatif menjadi positif. Jangan biarkan masyarakat kita mencerna informasi yang negative menjdi pemikiran yang salah kemudian dibiarkan. Pemerintah akan menghadapi permasalahan kejahatan yang sangat parah yang menghambat percepatan pembangunan.

Ide ini sudah disampaikan oleh Alfateta sejak Presiden SBY terpilih menjadi presiden. Hampir setiap tahun Alfateta melaporkan dan mengusulkan program perubahan mindset ini, tapi sampai beliau lengser surat Alfateta tidak pernah ditanggapi. Bahkan di masa Jokowi, sedikitnya Alfateta sudah mengirimkan 3 kali, dan juga tidak ada respon. Beberapa kementerian dan pejabat pemerintah merespon seperti Kemenkopolhukum, Departemen Dalam Negeri, Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak, Mabes Polri, BNN, Pemda DKi Jakarta. Kami telah memberikan presentasi, namun umumnya merasa tidak berkompeten memutuskan.

Charles Darwin mengatakan, bangsa yang bisa menjadi pemenang bukan bangsa yang kuat, bukan bangsa yang cerdas, bukan bangsa yang kaya, tapi bangsa yang mau berubah.

Apakah bangsa ini masih mau berpikir itu-itu saja dan tidak pernah mau berubah? Jawaban berpulang pada setiap orang, masyarakat dan pemerintah. Sukses (nasib) adalah pilihan… Bukan takdir. Siap tidak siap setiap orang harus berubah, jika tidak ingin kalah.

 

Dikutip dari buku Revolusi Mental Berbasis Mindset oleh Bambang Prakuso

 

---------

 

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jl. Kalibata I No.,17, Pancoran, Jakarta Selatan
081380642200 / 087775477733
081380642200
surfatalfateta@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2018 ALFATETA INDONESIA. Oleh Webpraktis.com | sitemap