Artikel Populer

KEJAHATAN NARKOBA DI INDONESIA

KEJAHATAN NARKOBA DI INDONESIA

Admin Selasa, 05 Desember 2017 ARTIKEL OPINI
KEJAHATAN NARKOBA DI INDONESIA

INDONESIA DARURAT NARKOBA

Bambang Prakuso, Alfateta

 

Melihat jumlah penduduknya yang padat, lemahnya pengawasan terhadap Narkoba, mindset generasi mudanya yang ke Barat-baratan, Indonesia adalah lahan empuk untuk memasarkan obat-obatan terlarang. Faktanya Indonesia memang menjadi sasaran pemasaran Narkoba (Narkotika, Psikotropika, dan Bahan Adiktif). Mengapa? Ada kemungkinan Indonesia tidak tegas pada pelaku kejahatan Narkoba. Grasi Presiden SBY pada terpidana Narkoba Corby  menunjukkan Indonesia terlalu kompromis terhadap kejahatan narkoba. Akibatnya tidak lama setelah presiden mengeluarkan grasi Indonesia dikagetkan dengan upaya memasukan pil extasy ke Indonesia melalui jalur laut. Tak tanggung tanggung jumlahnya, mencapai 1 kontainer. Lewat laut, udara, dan darat, aparat berhasil menggagalkan ribuan kilogram obat-obatan terlarang. Banyak yang tertangkap, tetapi tentu ada yang lolos. Yang lolos inilah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air, diedarkan oleh sindikasi internasional.

Hampir semua kalangan dari rakyat melarat, pejabat sampai konglomerat terlibat penyalahgunaan Narkoba. Pengamen, artis, pilot, hakim, pengacara, polisi, semua terlibat. Bahkan dua kali diberitakan, seorang pilot mengkonsumsi sabu-sabu beberapa jam sebelum menerbangkan pesawatnya. Bisa jadi moto penerbangan “we make you fly” telah menjadi mindset yang diartikan salah oleh sang oknum pilot .

BNN (Badan Narkotika Nasional) menyebutkan sekitar 3 juta orang/tahun terlibat dalam penyalahgunaan Narkoba. 50 orang pengguna dinyatakan tewas setiap hari. Sebagai orang awam kita memang dengan mudah bisa melihat transaksi dan penyalahgunaan dan peredaran Narkoba, tidak saja di kota-kota besar tetapi juga di pelosok desa. Di tempat hiburan malam, barang haram itu mudah didapatkan. Kasus Afriani Susanti yang menabrak dan menewaskan 9 orang di Tugu Tani Jakarta membuktikan benda terlarang itu bisa diperoleh dari tempat hiburan malam seperti diskotik. Dari balik lorong-lorong, para preman menawarkan ekstasi dari yang asli sampai yang palsu. Belum termasuk anak-anak jalananan yang fly dengan uap lem atau bensin.

Belum lama ini beberapa Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) telah dijadikan tempat peredaran obat-obatan terlarang, bahkan sipir penjara terlibat. Yang luar biasa perdagangan obat bius bisa dikendalikan sindikat dari balik jeruji penjara. Yang menarik para petinggi Lapas sampai Dirjen membela mati-matian anak buahnya di Lapas. “Selama anggaran untuk perluasan penjara tidak bisa terpenuhi maka kejahatan yang sama akan terulang,” kata Dirjen Lapas ketika menanggapi pemberitaan penggerebegan Narkoba di Lapas di lingkungannya. Dalam dunia motivasi sikap Dirjen tersebut menunjukkan mindset BEJ (Bleem, Excuse, Justifikasi). Pejabat mencari kambing hitam, memaklumi dan membenarkan perilaku menyimpang itu.

Rata-rata mindset pejabat birokrat di lini tengah (Dirjen, Direktur, Kabag) memang demikian. Ini sama dengan jawaban Dirjen Perdagangan yang mengatakan kenaikan BBM tidak ada pengaruhnya bagi industri. Ini pernyataan melawan logika yang sulit dibuktikan kebenarannya. Bukan hanya tingkat Dirjen yang menggunakan BEJ, presiden pun begitu.  SBY pun ketika partainya dilanda isu korupsi melakukan upaya beladiri (justify) dengan menyatakan dari sekian banyak korupsi, Demokrat di urutan ke-5, partai lain di urutan ke 1-4. Ini menunjukkan sikap BEJ tadi. Muncul kesan di masyarakat bahwa  presiden meminta permakluman, membenarkan, dan mencari kambing hitam. Presiden tidak bermaksud begitu, tapi kesan itulah yang muncul di pikiran masyarakat.

 

Dari buku Revolusi Mental Berbasis Mindset oleh Bambang Prakuso (Alfateta Indonesia)

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jl. Kalibata I No.,17, Pancoran, Jakarta Selatan
081380642200 / 087775477733
081380642200
surfatalfateta@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2018 ALFATETA INDONESIA. Oleh Webpraktis.com | sitemap