PELATIH-TRAINER

PELATIH-TRAINER

BIDANG PELATIH (TRAINER)

Alfeteta memiliki 2 jenis pelatih ditinjau dari tingkat seniornya:

1.   Pelatih Non-Karier. Pelatih non karier adalah pelatih yang memiliki pengalaman sebagai pelatih minimal 5 tahun dan memiliki modul sendiri dan keahlian khusus.

2.  Pelatih Karier. Pelatih karier adalah pelatih yang membawakan pelatihan-pelatihan Alfateta dengan tahapan dimulai dari Calon Pelatih, Pelatih Pratama, dan Pelatih Madya sampai menjadi Pelatih Senior.

 

JENJANG KEPANGKATAN PELATIH

1.  Pelatih Kepala. Pelatih  Kepala adalah pelatih yang menilai dan mengatur pelatih karier dan non karier dalam memberikan pelatihan.

2.  Pelatih Utama. Pelatih  Utama adalah pelatih yang menyusun modul untuk dibawakan sendiri atau dibawakan oleh pelatih pratama, madya maupun senior.  

3.  Pelatih Senior. Pelatih  Senior Non-karier adalah pelatih yang membawakan modulnya sendiri. Pelatih Senior Karier adalah pelatih yang membawakan pelatihan Alfateta .

4.   Pelatih Madya. Pelatih  Madya adalah pelatih yang membawakan 4-5 pelatihan Alfateta  dengan penunjukkan dan seizing Alfateta, dan berhak melakukan TOT untuk 2 judul pelatihan kepada PP atas persetujuan dan penunjukkan Alfateta. Jika diperlukan pelatih Madya dapat menjadi asisten Pelatih Senior.

5.  Pelatih Pratama. Pelatih  Pratama adalah pelatih yang membawakan 2-3 pelatihan Alfateta dengan penunjukkan dan seizing Alfateta. Jika diperlukan pelatih Pratama dapat menjadi asisten Pelatih Madya atau Senior. 

6.  Calon Pelatih. Calon Pelatih adalah mereka yang sudah bergabung di AIMPA namun belum mencapai target sebagaimana ditargetkan kepada mereka. 


SYARAT JADI TRAINER

  1. Mengingat posisi trainer sangat penting aka seorang Pelatih di Alfateta haruslah memiliki persyaratan yang ditetapkan Alfateta Indonesia:
  2. Memiliki pendidikan minimal SMTA (Sekolah Menengah Tingkat Atas) untuk melatih pelajar di tingkat SD dan SMP. Sedangkan untuk melatih tingkat SD bisa lulusan SMP. Untuk tingkat di atas SMTA minimal pernah kuliah. Kecuali, pelatih memiliki ilmu dan pengalaman tersendiri.
  3. Memiliki jiwa pendidik, mau membantu orang lain, berani berbicara di depan publik, mau terus menerus belajar, disiplin, loyal, berdedikasi, dan mampu menunjukkan prestasi khususnya di bidang pemasaran pelatihan AIMPA sendiri.
  4. Untuk mencapai kemampuan berbicara di hadapan publik, mendalami suatu bidang pengetahuan AIMPA akan melakukan TOT (Training of Trainer)
  5. Untuk mengetahui perilaku yang baik sebagai trainer seperti disiplin, loyal, berdedikasi, berintegritas, mau belajar, mau membantu orang lain, Alfateta Indonesia akan melakukan penilaian selama calon trainer bergabung bersama Alfateta Indonesia dan selama mengikuti TOT.
  6. Untuk mencapai prestasi di bidang pemasaran, maka setiap calon trainer terutama yang akan membawakan ilmu-ilmu Alfateta wajib memulai kariernya sebagai marketing dengan mencapai target seperti mengirimkan surat penawaran, melakukan follow up, merekrut calon pelatih/marketing di bawahnya, dan mencapai target omzet yang telah ditetapkan.
  7. Target pemasaran oleh marketing IDC dan ABC ditetapkan dalam business plan dan cash flow projection Alfateta Indonesia.
  8. Mengapa seorang calon trainer harus memasarkan AIMPA? Karena jika pelatihan tidak dipasarkan logikanya tidak ada yang akan dilatih oleh si pelatih. Untuk memperingan tugas calon pelatih dan agar pelatih cepat menjadi pelatih maka dia harus juga dipasarkan oleh orang-orang yang ia rekrut. Seorang hanya bisa jadi pelatih jika ia dipasarkan orang 2 tingkat di bawahnya. Contoh. A merekrut B. B Merekrut C. A hanya dapat melatih jika yang memasarkan dirinya adalah C. Hanya dengan cara ini A bisa berkembang cepat menjadi seorang pelatih madya, karena jumlah yang memasarkannya lebih banyak. Jika yang memasarkan adalah B, maka A hanya berhak menjadi asisten pelatih (Pelatih Pratama).
  9. Mengapa ada target? Pencapaian target adalah penentu kualitas seseorang. Seorang Pelatih/trainer AIMPA adalah orang yang terbukti mampu memasarkan dirinya dan orang lain. Sebagai pelatih ia bisa membuat pencapaiannya sebagai track record dan pengalaman sebagai pelatih. Tanpa target bukan saja seorang pelatih tidak akan pernah bisa melatih karena peserta pelatihannya tidak ada atau sangat minim, tapi juga akan menjadi seorang pelatih yang Jarkoni (Bisa mengujar gak bisa melakoni, alias Omdo-omong doang).  Pelajaran di AIMPA bukan sekadar motivasi tetapi lebih banyak 


HONORARIUM

LIHAT (SISTEM BAGI HASIL)

Facebook