KURSUS JARAK JAUH

Minggu, 09 September 2018 oleh Admin PELATIHAN ALFATETA
KURSUS JARAK JAUH

KURSUS JARAK JAUH

DISTANCE LEARNING


KURSUS JARAK JAUH disebut juga KulWA (Kuliah Lewat WA)

KulWA (Kuliah lewat WhatsApp) adalah pelatihan jarak jauh (distance learning) yang diselenggarakan oleh Alfateta agar siapa pun, di mana pun, dan kapan pun bisa mengikuti pelatihan Alfateta.

UNESCO sekitar tahun 1980an pernah mengatakan bahwa Distance Learning adalah salah satu metode belajar terbaik di dunia, karena bisa diikuti siapa saja, di mana saja dan kapan saja.  Tidak mengherankan jika kita mendapatkan ijazah kursus marketing misalnya dari Amerika tanpa kita harus ke Amerika. Di tahun 80-90 an, sebelum adanya komputer dan internet, kursus jarak jauh menjadi model pembelajaran karena bisa diikuti oleh siapa pun dari seantero dunia.

School of Writing di Singapura memiliki puluhan ribu siswa dari seluruh dunia. Di waktu itu juga bermunculan kursus jarak jauh dari berbagai belahan dunia. Bahkan ada sebuah lembaga di Amerika yang menyelenggarakan kursus atau sekoloh jarak jauh yang mengajarkan puluhan sampai ratusan pengetahuan yang secara logika sulit dipahami, misalnya bagaimana kursus pilot bisa dilakukan dari jarak jahu.

Tahun 1970an, pendiri Alfateta, Bambang Prakuso saat di sekolah di Medan telah mengikuti beberapa kursus jarak jauh via pos dari berbagai lembaga. Di antaranya AIDA International (Jakarta), penyelenggara kursus bahasa Inggris Jarak Jauh. Sumber Pengetahuan (Bandung), selain menyelenggarakan kursus jarak juah bahasa Inggris juga menyelenggarakan kursus bahasa Jerman, Itali, Perancis, Korea bahkan bahasa Esparanto (bahasa yang disepakati PBB menjadi bahasa Internasional). Banyak lagi lembaga lain yang menyelenggarakan pelatihan jarak jauh, seperti El Sinar di Siantar Sumut, Kursus Silat Kilat di Bandung, dll. Kursus Kilat mengajarkan puluhan jurus ilmu silat yang menggunakan diktat bergambar.

Belajar dari pengalaman belajar jarak jauh, tahun 1986 mendirikan lembaga kursus kewartawanan jarak jauh bernama LEMJURI (Lembaga Jurnalistik Jarak Jauh).  Jumlah siswanya dari tahun 1986 sampai dengan 1999 mencapai  5000 orang di seluruh Indonesia bahkan manca negara. Kursus dihentikan karena munculnya UU tentang pokok pers yang kalau dilenggarakan lagi harus mengubah seluruh bahan kursus.Tahun 1990an Bambang Prakuso pernah berkeinginan menyelenggarakan kursus jarak juah dalam berbagai bidang dengan DHpr. Namun terhentik karena situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan untuk diteruskan.,

Kini Alfateta kembali menyelenggarakan kursusjarak jauh tidak saja kewartawanan, tapi ada 100 modul di bidang perubahan mindset, pemberdayaan pikiran, dan kterampilan berpikir.

Di abad komputer dan internet ini banyak lembaga yang sudah mulai mengubah pola pengajaran jarak jauh dengan menggunakan website dan webinar. Namun menurut kami, sebagai peserta pelatihan jarak jauh offline ataupun online, kami melihat belum banyak orang Indonesia yang familiar dengan pembelajaran website. Metodenya terlalu njelimet yang mengakibatkan orang malas mempelajari walau sudah membeli. Begitupun dengan webinar. Manusia sekarang sudah tidak lagi bisa mengaur waktunya. Webinar adalah semacam pembelajaran jarak jauh, yang dilakukan secara face to face tapi melalui internet. Peserta dan pembicara bisa berinteraksi. Tapi masalahnya tidak semua orang bisa dipatok waktunya untuk mengikuti pelatihan jarak jauh. Orang sekarang sangat sibuk, dia sendiri yang menentukan kapan dia mau belajar atau tidak. Karena itu website dan web binar masih kurang efektif. Kami berpendapat yang paling efektif tetap offline . Jika pun lewat jarak jauh berupa buku, audio  atau video.

Dari media internet yang digunakan di Indonesia seperti, website, webinar, telegram, WhatsApp Facebook dan lain-lain namun menurut kami WhatsApp yang paling efektif.

Mengapa KulWA di adakan? Lebih dari 50 dari 100 pelatihan jarak jauh Alfateta adalah ilmu mind power dan turunannya, meliputi perubahan mindset, pemberdayaan pikiran, dan keterampilan berpikir. Sebagian pelatihan telah diberikan pada puluhan ribu orang dari Aceh sampai Papua. Peserta pelatihan Alfateta hampir semua golongan seperti pelajar, mahasiswa, guru, dosen, anak jalanan, fakir miskin, korban bencana alam, profesional, anggota organisasi sosial dan partai politik, organisasi kemasyarakatan, pemuda, pemuka masyarakat, narapidana, karyawan, PNS, aparat kepolisian, dll.
Sekalipun kami telah keliling Indonesia selama 10 tahun ini, namun hanya sebagian kecil yang bisa kami ajarkan kepada masyarakat karena jumlah tenaga, waktu, sumber dana dan sumber daya yang terbatas.
Alfateta memiliki impian INDONESIAN DREAM (terciptanya masyarakat yang cerdas, mandiri, sejahtera, dan berakhlak). Salah satu cara yang diandalkan adalah menyelenggarakan pelatihan berbasis mind. Mengapa Mind? Karena Alfateta percaya, seseorang miskin atau kaya, sebuah negara maju atau miskin adalah karena mindset bangsanya.
Yang cukup kita prihatinkan adalah pemerintah tidak punya pendidikan mindset. Ini mengakibatkan pemerintah kesulitan menjalankan program Revolusi Mentalnya, jika tidak ingin dikatakan GAGAL. Jika Revolusi Mental gagal, Indonesia dalam bahaya. Kata orang mengubah mental bangsa ini bisa puluhan tahun. Itu bohong. Kami bisa melakukannya dalam 5 tahun bila pemerintah memberi dukungan.

Mengingat kelemahan pemerintah ini sementara pemerintah belum dapat bekerjasama dengan kami, maka kami bertekad untuk melakukan program: 

  1. Menyelenggarakan pelatihan jarak jauh agar dapat diikuti siapa saja, di mana saja dan kapan saja.
  2. Menciptakan minimal 2 pelatih di tingkat kabupaten untuk memberikan pelatihan perubahan mindset dan pemberdayaan pikiran kepada para siswa dan guru.


Alasan Penggunaan WhatsApp:

  1. Pilihan hasil angket Alfateta memilih belajar 1. WhatsApp, 2. FB Fanspage, 3.  Youtube).
  2. Karena kepopulerannya WhatsApp telah menggantikan peran SMS
  3. Hampir setiap orang memiliki WhatsApp. Tidak demikian dengan instagram, Line dll
  4. WhatsApp sangat familier dan bisa menerima media gambar, video, pdf, dll.
  5. Banyak kursus gratis di WhatsApp, tapi karena gratis tidak dikelola profesional.
  6. Kursus lewat Website dan Webinar ada kelemahan, kendala jaringan, kendala teknis, kendala lupa pasword, kendala kesulitan tanya jawab, dll.
  7. Lebih banyak orang mengakses WA daripada website bahkan aplikasi.
  8. WA sudah bagian dari kehidupan sehari-hari, sama dengan SMS di waktu dulu.
  9. WA mudah diakses dengan pulsa data yang kecil.
  10. KulWA (Kuliah lewat WA) bisa diikuti oleh siapa saja,  di mana saja dan Kapan Saja. Bahkan bisa diikuti oleh mereka yang tinggal di luar negeri. Cocok untuk Anda yang sibuk, malas, biaya terbatas, dan senang seharian menghadapi gadget.
  11. Bahkan Anda bisa ikut pelatihan secara gratis. Ini persoalan bukan bisa atau tidak, tapi mau atau tidak. Tidak ada uang? Anda bisa menjadi reseller. Ada 3 saja yang mengikuti KulWA Alfateta atas referensi Anda, maka Anda dapat sekitar 90.000. Itu sudah cukup untuk ikut 1 judul pelatihan dengan pembayaran pre order.


Kejar Ketertinggalan

  1. Seperti diketahui menurut UNESCO minat belajar dan membaca bangsa kita termasuk terendah di dunia. Bangsa kita kalah jauh dengan bahkan hanya dengan negara ASEAN khususnya dalam membaca.
  2. Membaca adalah kunci atau gerbang ke ilmu pengetahuan. Jika minat baca kita hanya 0,001% sedangkan negara ASEAN sudah 50%, maka bisa dipastikan kita akan tergilas bahkan dengan negara tetangga kita sendiri. Jika negara ASEAN sudah mampu membaca 1 tahun 5 buku, kita 1 buku pun tidak, maka kita tidak tahu bagaimana nasib bangsa kita ke depan.
  3. Orangtua, guru, dan siswa apalagi pemerintah serta masyarakat tidak boleh diam. Banyak orangtua dan guru tak peduli apakah siswanya bisa baca cepat atau tidak. Mereka merasa sudah cukup mengajarkan ilmu sesuai kurikulum. Karena tidak ada yang memiliki inisiatif mengatasi ini, Alfateta mengambil peran.
  4. Mengejar ketertinggalan dalam bidang membaca  rasanya kita sulit. Pelatih membaca sangat cepat masih langka dan pemerintah belum mengakomodasinya. Karena itu budaya seminar atau pelatihan/workshop harus digiatkan. Melalui workshop kita bisa meringkas sebuah pengetahuan dan disampaikan dengan bahasa lisan.
  5. Berapa honor Mario Teguh? Rp 110 juta per jam. Itu menunjukkan orang bersedia membayar mahal untuk sebuah pengetahuan.
  6. Pelatihan dan workshop berkembang pesat di Indonesia. Namun biaya mengikuti seminar atau pelatihan sangatlah tinggi. Untuk membaca cepat misalnya biayanya masih Rp 3,5 juta per orang. Dan rata-rata untuk seminar yang bagus minimal Rp 500.000, dan banyak yang mencapai jutaan. Ketika jumlah pembaca di Indonesia sedikit maka ini berbanding lurus dengan kelangkaan pembicara di Indonesia. Banyak orang punya kemampuan bicara tapi minim pengetahuan. Alfateta mengatasi semuanya dengan mengadakan pelatihan lewat WA dengan biaya jauh lebih murah.
  7. Cara untuk mengatasi rendahnya minat baca, minat belajar dan menekan biaya pelatihan langsung (seminar atau workshop) adalah dengan mengadakan pelatihan jarak jauh. Media paling sederhana dan gampang untuk berkomunikasi dan melakukan pelatihan adalah WHATSAPP.


    SOLUSI ALFATETA BUAT BANGSA

    Anda beruntung agen kami menunjukkan SITUS INI kepada Anda. Itu artinya Anda telah melihat sebuah pintu untuk mengubah nasib di masa depan. Kini Tidak ada alasan Anda tidak Mau Belajar.

    Dengan Kuliah Lewat WA, Kini Anda tidak perlu lagi:
    1. Membaca Ratusan atau Ribuan buku
    2. Menyesali kesibukan sehingga tak bisa ikut workshop.
    3. Terbang dari Papua ke Jakarta untuk ikut seminar
    4. Canggung belajar karena rekan sekelas lebih muda atau lebih tua



Untuk mengetahui jadwal, biaya pelatihan dan cara memesan Kuliah lewat WA silakan klik

http://alfateta.com/tabel-biaya-pelatihan-kulwa-detail-402440.html




  • Artikel Terkait

Belum Ada Komentar