COVID-19 MENGATASI LEDAKAN PENDUDUK

Agama apapun, negara manapun... Belum mampu mengatasi wabah Corona. Karena Corona tercipta untuk mengatur seleksi alam. KB tak bisa mengatasi ledakan penduduk dan perusakan alam. Ini persis ramalan Malthus, bahwa pertumbuhan penduduk berdasarkan deret ukur (misalnya 5, 25, 135 dan seterusnya) dan pertumbuhan konsumsi berdasarkan deret hitung (5, 10, 20, 40 dstnya).
Hanya wabah yang bisa mengurangi jumlah penduduk. Sebab perang dan bencana alam pun tak mampu mengatasi bencana ledakan penduduk yang tak bisa dikendalikan manusia. Walaupun pendapat Malthus ditentang para ilmuwan, namun pada kenyataannya jumlah penduduk memang tidak bisa dikenalikan. Jumlah manusia terus bertambah, sedangkan kecepatan teknologi pertanian belum dapat menyangi populasi manusia. Maka alam mengatur keseimbangan, bencana alam dan perang. Tampaknya pengurangan manusia melalui bencana dan perang masih belum bisa mengatasi ledakan penduduk.
Virus Covid-19 tampaknya solusi. Kehadirannya bukan saja mengurangi populasi manusia  dan sekaligus mengatasi masalah lingkungan yang rusak parah karena kelakuan manusia. Virus Covid mampu menghentikan aktivitas manusia merusak alam semesta. Bumi mengalami restart.
Virus Covid1-19 ternyata memilih sasaran, mereka yang umumnya kena salah satunya mereka yang berusia lanjut dan sakit-sakitan.
Mengerikan memang. Kalau kita pakai logika maka kita tidak menganggap musibah sebagai cobaan Tuhan. Tuhan itu maha pengasih dan penyayang, dia  menyayangi dengan caranya.; Bagi yang berpikir sempt dan pemahaman tidak luas, musibah adalah cobaan. Kalau cobaan itu katanya ada di kitab suci, itu karena mereka tidak melihat dari sudut yang positif. Tergantung dari sudut mana kita memandang.
Bagi sebagian orang, musibah adalah perintah Tuhan agar kita menggunakan akal kita. Bagi yang berpikir sempit akan menerjemahkan "Setelah kesulitan ada kemudahan." Tapi bagi yang mau berpikir, "Dibalik kesulitan ada kemudahan". Beda penerjemahan beda mindset. Beda mindset beda cara kita mengatasi masalah. Bagi orang yang mengatakan bahwa "di balik kesuilitan ada kemudahan", berarti dia menggunakan akalnya untuk membaca apa yang ada di balik musibah ini. Mata uang hanya ada dua sisi, buruk dan baik, kaya atau miskin, peluang atau masalah, kesulitan atau kemudahan. Kita sebagai manusia berakal harus menerjemahkan musibah sebagai teguran kepada kita bahwa kita diminta menggunakan akal, untuk melihat suatu solusi, keberuntungan, kemudahan di balik kesulitan atau musibah.
Siapa Anda? Orang yang menunggu sesuatu keajaiban terjadi setelah musibah, atau orang yang bergerak mengubah kesulitan menjadi kemudahan. (Bambang Prakuso)

Bagikan Post

Artikel Terkait
Komentar
  1. Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Komentar Anda *

Nama Lengkap *

Email *

Kode Verifikasi *

Profil

ALFATETA INDONESIA

ALFATETA Indonesia adalah lembaga pelatihan perubahan mindset dan pemberdayaan pikiran yang memiliki missi Indonesian Dream, terciptanya masyarakat yang cerdas, mandiri,

Subscribe

Kategori
Artikel Populer
Video
Event Terdekat
Go to TOP