Artikel Populer

BERJUANG DI JALUR POLITIK

BERJUANG DI JALUR POLITIK

Admin Jum'at, 15 Juni 2018 PSI
BERJUANG DI JALUR POLITIK

BANTU KAMI MERAIH IMPIAN INDONESIAN DREAMTERCIPTANYA MASYARAKAT YANG CERDAS, MANDIRI, SEJAHTERA DAN BERAKHLAKDIMULAI DARI KUNINGAN, CIAMIS, PANGANDARAN, DAN KOTA BANJAR. INDONESIA DALAM BAHAYA Berawal dari keprihatinannya terhadap kondisi bangsa, tingginya dekadensi moral bangsa, tingginya angka kemiskinan, kebodohan, pengangguran, penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba, seks bebas dan kenakalan remaja, tingginya tingkat intoleransi, radikalisme, dan terorisme, korupsi, tawuran antar warga dan pejabat, tingginya angka kejahatan, konsumerisme, dan rendahnya produktivitas bangsa, Bambang Prakuso menggas sebuah impian INDONESIAN DREAM (terciptanya masyarakat yang cerdas, mandiri, sejahtera, dan berakhlak). Impian ini diciptakan pria kelahiran Medan Sumatra Utara ini di Banyuwangi. Saat ia menjadi Asisten Direktur sebuah perusahaan yang dipimpin oleh pengusaha berusia 30 tahun kala itu. Impian itu membawanya kembali ke Jakarta  tahun 2017 dan meniti karier yang tak pernah diimpikannya, yakni profesi sebagai motivator/trainer. Ia mulai karier trainer dari bawah, banyak membaca dan belajar, kemudian membantu memasarkan seorang motivator yang kini telah menjadi motivator nasional. Sampai akhirnya ia mulai melatih para gelandangan, fakir miskin, anak yatim piatu, pelajar, sehingga merembet dipercaya untuk melatih mahasiswa, guru, para dosen, agamawan, profesional, karyawan, PNS, para pejabat, organisasi massa, organisasi politik, bimbingan belajar, pesantren, pemuda, dll. Bambang Prakuso yang mantan wartawan Pos Kota dan PRO di Indofood Group ini telah menulis 36 judul buku. Karena buku-bukunya itulah kemudian ia dipercaya untuk memberikan pelatihan. Dimulai dari menjadi motivator bertahun-tahun tanpa honor atau honor sangat kecil sampai pernah mendapatkan bayaran Rp 10 juta per jam.  Sekalipun demikian sampai saat ini Bambang Prakuso yang juga pernah jadi manajer promosi dan marketing ini tak pernah melihat berapa honor yang diberikan. Sepanjang ia mampu dan punya waktu ia selalu bersedia membantu memberikan pelatiha kepada kelompok atau strata apa pun.  Dari pengalamannya melatih belasan ribu orang dari Aceh sampai Papua saat itu, Bambang Prakuso telah mengirim 7 surat selama 10 tahun SBY menjadi Presiden. Ia mengusulkan pelatihan Change Your Mindset Change Your Life untuk masyarakat. Tapi tak satu pun SBY membalas. Beberapa kementerian memberikan tanggapan dan meminta Bambang Prakuso memberikan presentasi. Tapi semua kementerian bingung karena tidak tahu bagaimana merealisasikan gagasan pelatihan perubahan mindset untuk rakyat itu. Berfoto bersama Para Deputy Menteri di Kemenkopolhukam mempresentasikan Indonesia dalam Bahaya, pentingnya pendidikan Mind Power. Ketika Presiden Jokowi menggagas Revolusi Mental, Bambang Prakuso berhasil menyusun 400 halaman konsep Revolusi Mental, dan konsep itu selesai saat Presiden Jokowi terpilih jadi Presiden. Konsep itu dikirimnya ke Istana negara dan Balai Kota DKI, karena saat itu beliau masih berkantor di balai kota sekalipun sudah memenangkan jabatan presiden. Setelah Joko Widodo terpilih dan menempati istana, ia telah mengirimkan 7 kali surat ke Presiden, mengusulkan konsep pelatihan Revolusi Mental untuk Rakyat. Ia usulkan ini karena ternyata, Kementerian PMK (Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan, tidak menjadikan program revolusi mental untuk mengubah mental masyarakat, melainkan untuk pejabat atau birokirat. Bahkan untuk ini 5 Kemenko ikut menangani Revolusi Mental. Sama seperti SBY seluruh suratnya tidak ada satupun yang dibalas Jokowi. Beberapa kementerian mengundang presentasi. Tapi sama kasusnya mereka bingung bagaimana usulan revolusi rakyat dilaksanakan, karena mereka tidak punya konsep Revolusi Mental. Konsep Revolusi mental sangat bagus, tapi sayang kementerian yang dipercayakan untuk menjalankannya gagal melaksanakan. Akibatnya ujaran kebencian, intoleransi, radikalisme, terorisme, berita hoax, dan upaya menggantikan ideologi Pancasila merebak. Ini bukti Revolusi Mental gagal, harus segera diperbaiki jika Jokowi terpilih kembali.  Konsep Revolusi Mental yang diajukan oleh Bambang Prakuso Alfateta berbeda dengan konsep Revolusi Mental yang diajukan Jokowi. Jika Jokowi mengatakan Revolusi Mental itu adalah Integritas, Etos Kerja, dan Gotong Royong, Bambang Prakuso melalui Alfateta Indonesia Mind Power Academy yang ia dirikan tahun 2007 mengajukan konsep, Revolusi Mental meliputi 4 hal yakni Revolusi Akhlak berbasis agama, Revolusi Moral berbasis Ideologi Pancasila, Revolusi Budi Pekerti berbasis Budaya, dan Revolusi Mindset berbasis Neuro Science atau Mind Power. Alexander Paulus mengatakan. 80% nasib manusia ditentukan oleh pola pikirnya, Mengapa Jepang menjadi negara paling disiplin dan empati di dunia, mengapa Belanda menjadi negara paling aman di dunia, mengapa Finlandia diakui memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia, mengapa New Zeland diakui sebagai negeri paling Islami di dunia... karena ideologi mereka? agama mereka? budaya mereka?  Jawabannya karena mindset. Mindsetlah yang menentukan mengapa sebuah bangsa maju atau terbelakang, mengapa ada orang miskin ada orang kaya, ada orang jahat ada orang baik. Di mana pendidikan mindset di Indonesia? Tidak ada. Para ahli mengatakan kita baru menggunakan 0,001% dari potensi pikiran kita. Mengapa kita tidak mampu memberdayakannya? Karena ilmu neuro science atau mind power masih asing di Indonesia. Padahal ilmu ini mendesak diperkenalkan. jika tidak kita akan tertinggal cara berpikirnya dengan bangsa maju di dunia. Untuk melaksanakan missi Indonesian Dream, Bambang Prakuso ingin pemerintah dan masyarakat menjadikan modul Alfateta yang jumlahnya kini telah mencapai 70 modul menjadi pelatihan standard bagi bangsa Indonesia untuk mencapai Indonesian Dream dan mengubah mindset dan memberdayakan pikiran bangsa Indonesia agar sejajar dengan bangsa maju di dunia. Modul Alfateta didasarkan pada ilmu neuro science. Walau pelatihan Revolusi Mental untuk Rakyat dan ilmu turunannya telah kami ajarkan kepada puluhan ribu orang dari Aceh sampai Papua dengan berbagai strata, namun pemerintah tetap tidak memberikan respon. Menurut kami jika konsep Revolusi Mental sangat sederhana seperti yang disampaikan Jokowi, kita butuh puluhan tahun lagi untuk mengubah mindset dan memberdayakan pikiran bangsa kita. Tapi kami yakin, dengan konsep Revolusi Mental yang kami miliki, Indonesia bisa mengubah pola pikir dan memberdayakan pikiran bangsa ini dalam waktu hanya 5 tahun atau kurang. Untuk melaksanakan impiannya Bambang Prakuso telah melakukan berbagai cara selain menyurati para presiden mulai dari SBY sampai Jokowi, ia membentuk berbagai organisasi atau gerakan, di antaranya:Gerakan Revolusi Mental. Yang mengajarkan 'cara merevolusi mental ke seluruh masyarakat Indonesia di mana pun berada. Gerakan Sejuta Motivator. Diperlukan ribuan atau jutaan motivator untuk mensosialisasikan Indonesian Dream dan mengajarkan Cara Merevolusi Mental Rakyat. Gerakan Baca 1 Buku 1 Bulan. Tidak ada cara paling mudah untuk mempercepat perubahan mindset dan memberdayakan pikiran bangsa ini kecuali mereka harus membaca buku. Kita prihatin karena berdasarkan penelitian UNESCO Indonsia termasuk negara paling malas membaca di dunia. Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN saja kita sangat jauh tertinggal. Itu sebabnya mengapa dekadensi moral dan intoleransi, radikalisme, korupsi, penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja, pengangguran dll meningkat di negeri ini dan sulit di atasi. Pasukan Monas (Penggerak Sukarelawan Motivator Nasional). Karena tidak semua orang mau dan bisa menjadi motivator, karena itu perlu dibentuk mereka yang mau menggerakan masyarakat di daerah menjadi motivator. Selain mendirikan Alfateta, memberikan pelatihan, membentuk gerakan dan organisasi, terakhir untuk meraih Indonesian Dream, Bambang Prakuso menggunakan jalur politik dengan mencalonkan diri sebagai Anggota DPR RIdari Partai Solidaritas Indonesia. (PSI), partai baru yang banyak diisi oleh generasi muda milenial. Partai ini mengusung jargon anti korupsi (kejujuran), dan anti intoleransi (toleran). Bambang Prakuso walaupun tinggal di Bekasi, namun PSI menempatkan Dapil Jabar 10 sebagai arena kampanye dan wilayah tugasnya. Bambang Prakuso, dilahirkan  17 Januari 1962 di Labuhan Batu Sumatra Utara. Dari SD sampai SMA di Medan. Ayah kandungnya Cipto Diharjo berasal dari Purworejo (Jawa Tengah) dan Ibu kandungnya Suminah berasal dari Cimahi Jawa Barat). Ia diberarkan oleh ayah angkatnya Kadri Siswoyudo asal Madiun (Jawa Timur), Ibu angkatnya (asal Yogyakarta). Karena itu sekalipun nnamanya Jawa, lahirnya di Sumatra, ia merasa bagian dari suku Sunda, karena ibunya berdarah Sunda. Programnya di Jabar Dapil 10 (Kuningan, Ciamis, Pangandaran, dan Kota Banjar) tidak bisa dilepaskannya dari aktivitasnya sehari-hari sebagai seorang motivator atau trainer. Sejak awal dia ingin menciptakan pelatih minimal 2 orang di tingkat kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Momen Pileg ini ia gunakan untuk fokus memulai dari penciptaan pelatih di 4 wilayah tersebut. Ia sendiri yang akan turun memberikan pelatihan kepada para pelajar, mahasiswa, guru, pemuda, dan para lansi di 4 wilayah tersebut sampai kampanye berakhir.  Jika ia terpilih sebagai DPR, aktivitas ia sebagai pelatih akan terhenti. Jika itu terjadi, sebelumnya  Bambang Prakuso yang tidak tinggal di wilayah Dapilnya akan memprioritaskan menciptakan relawan yang membantunya menjadi Event Organizer di 4 wilayah tersebut menjadi pelatih Alfateta. Setiap trainer akan dibiayai oleh Bambang Prakuso agar mereka dapat menjalankan aktivitas pelatihan terutama untuk masyarakat tidak mampu dan sekolah-sekolah kelas menengah bawah.  Jika seluruh trainer di daerah mana pun di seluruh Indonesia harus membayar biaya TFT dan wajib membayar royalti kepada Bambang Prakuso sebagai pencipta modul dan penyelenggara TFT, maka khusus untuk trainer yang berjadi di 4 Dapil tersebut  diberikan hak menjadi trainer dan pengelolaan Alfateta Indonesia secara gratis. Justru pelatihnya akan dibayar oleh Bambang Prakuso yang disisihkan dari pendapatannya sebagai Anggota DPR RI. Sebelum memperkenalkan dan memperjuangkan pelatihan Alfateta ke negara untuk dijadikan pelatihan wajib Revolusi Mental, maka Bambang Prakuso bertekad untuk membuktikan bahwa pelatihan yang diberikan kepada 4 wilayah di atas mampu menciptakan masyarakt yang cerdas, mandiri, sejahtera, dan berakhlak. Bagi siapa pun warga Jawa Barat di Kuningan, Kota Banjar, Ciamis, dan Pangandaran yang berminat menjadi relawan, saya undang untuk menjadi event organiser sebelum menjadi trainer dan memegang hak waralaba gratis. Tentang bagaimana cara saya memperkenalkan diri dan mengajak warga untuk memilih saya, nanti akan saya sampaikan secara khusus. Sayarat untuk menjadi trainer:Berusia di atas 18 tahun, lulus minimal SMP. Siap mengajarkan minimal 3 pelatihan untuk melejitkan prestasi siswa di Kuningan, Pangandaran, Kota Banjar, dan Ciamis. Memiliki komitment untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, mandiri, sejahtera, dan berakhlak. Berjiwa patriotisme dan nasionalis. Siap melaksanakan visi dan missi Alfateta Indonesia Mau dan bersedia dilatih menjadi trainer Bersedia menjadi relawan pemenangan Bambang Prakuso sebagai caleg DPR RI.Bersedia mengawali karier dari Event Organizer, mengorganizir seminar, pelatihan, workshop bagi masyarakat di Dapil yang membutuhkan. Bersedia mengikuti TFT (Trainer for Trainer) untuk meneruskan pelatihan kepada para pelajar jika Bambang Prakuso terpilih menjadi wakil rakyat. Mengirimkan surat lamaran ke bambangprakusopsi#gmail.com Beberapa materi pelatihan yang akan dibawakan oleh Bambang Prakuso sendiri di Dapilnya jika masyarakat membutuhkan: Catatan:Sangat beruntung masyarakat di Dapil 10, belum pernah seluruh pelatihan ini saya berikan di suatu daerah. Yang ada selama ini hanya 1 judul saja. Semua masyarakat Jabar Dapil 10 saya harapkan dapat memilih PSI. Karena dengan memilih PSI, PSI akan masuk dalam percaturan politik di Indonesia. Dan kami akan memperjuangkan seluruh pelatihan ini dan masih ada puluhan pelatihan lain diajarkan tidak saja di Jabar, tapi di seluruh Indonesia. Percayalah, jika sebagian saja ilmu ini diajarkan di seluruh Indonesia, kita mampu berpikir sejajar dengan bangsa maju di seluruh dunia. PENGALAMAN LUAR BIASA DARI JAWA BARAT GURU PAUD DI JABAR  GAJI RP 100.000 IKUT PELATIHAN ALFATETA RP 75.000 Suka dan duka membawakan pelatihan Alfateta untuk Indonesian Dream sungguh banyak. Di daerah Jawa Barat dialami oleh Alfatea. Kami, waktu itu pelatih adalah Bambang Prakuso, pernah mengajar di Bandung, Tasikmalaya, Ciamis, Pangandaran, Kota Banjar, Indramayu, Garut, dll. Kebetulan audiens pelatihan saya kecuali Bandung adalah guru PAUD. Anda tahu berapa gaji seorang guru PAUD. Ya paling tinggi Rp 300 ribu. Dan umumnya/Rp 100.000 - Rp 200 ribu. Ibu Rini (warga Tasikmalaya) mengundang saya untuk memberikan pelatihan pada guru-guru PAUD di daerah tersebut di atas.  Bu Rini menetapkan biaya Rp 75.000 per guru PAUD. Dan pesertanya sangat ramaiAda 100 bahkan ada yang 200 orang. Satu yang membuat saya terharu adalah, mereka gajinya hanya Rp 100.000 tapi mau membayar Rp 75.000 untuk mengikuti pelatihan saya.  Apakah saya secara materi untung mengajar guru PAUD, jawabannya tidak. Saya ingat di Tasuk atau Kota Banjar (saya lupa), untuk sewa tempatnya saja (waktu itu gedung milik sebuah partai besar) sudah Rp 4,5 juta. Belum konsumsi dan transportasi kita. Sehingga ada sisa sekitar Rp 400.000. Itulah yang kami bagi dengan EO-nya. Jadi uang itu hanya cukup untuk transport saya. Itulah kesan saya saat mengajar di Jawa Barat. Hampir semua begitu. Kami tidak ada untung secara materi. Tapi kebanggan kami luar biasa. Guru PAUD yang seharusnya dibiayai oleh pemerintah mau membayar sendiri pelatihan kami untuk mereka. Karena tidak pernah ada untung walau para guru PAUD telah membayar Rp 75.000 atas pelatihan itu, EOnya yang surut melangkah, sedangkan saya siap untuk terus memberikan pengetahuan pada mereka. Di Pangandaran, kami menyelenggarakn pelatihan di hotel. Banyak guru PAUD untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di hotel. Di sini pun secara materi kami tidak ada sisa uang. Tapi sekali lagi semua itu telah membulatkan tekad saya, semua guru PAUD di seluruh Indonesia, khususnya nanti guru-guru PAUD di Dapil 10 atau Jawa Barat harus mengikuti pelatihan Alfateta, khususnya Bagaimana Menciptakan Generasi Cerdas dimulai dari Usia Balita. Dan pelatihan Bagaimana agar Guru PAUD memiliki penghasilan dari usaha lain yang bisa mensejahterakan mereka. Ini adalah sebagian dari foto-foto kami saat melatih di Tasikmalaya, Kuningan, Pangandaran, Ciamis, dan Kota Banjar. Pelatihan di Bandung MIND POWER HARUS MASUK MESJIDAlfateta pernah diundang untuk memberikan pelatihan kepada pemuka masyarakat di Bandung. Pelatihan diselenggarakan oleh Pak Hani di Dezon Jl. Asia Afrika Bandung. Saat itu seluruh kursi sudah penuh. Ada ratusan orang hadir. Tamu yang pertama datang adalah dari pesantren Darul Tauhid  Aa Gym. Kemudian disusul serombongan orang dengan pakaian gamis. Bambang Prakuso menyalami mereka. Saat akan dimulai, pak Hani berbisik kepada saya, Pak mohon hati-hati di barisan depan ini rombongan Islam ekstrim. Jadi mohon pembicaraannya jangan menyinggung hal yang membuat mereka tidak senang. Bambang Prakuso saat itu berpikir tidak ada hal yang pantas membuat mereka tersinggung. Seperti biasa, dia memberikan pelatihan sebagaimana ia juga mengajar di komunitas yang lain. Sekitar 3 jam pelatihan usai. Serombongan orang yang dikatakan ekstrim itu mendekati saya, salam pamit, dan memeluk saya. "Seharusnya pelatihan ini masuk ke mesjid pak". Demikian kata pemimpin rombongan.  kami senang sekali. Kami jadi teringat, 3 kali kami mendapatkan perlakukan yang sama. Ketika di Depok, ada sekelompok jemaah kebun jeruk yang ikut pelatihan kami. Selama kami mengajar mereka memotret. Dan setelah selesai mendekati kami, mengatakan maukah Alfateta mengajarkan ini di jemaah mereka? Tentu saja saya mau. Hal yang sama juga pernah terjadi di Kisaran Sumatra Utara, dan di beberapa masjid di Indonesia, termasuk di pesantren-pesantren yang ada di Indonesia. Dalam komunikasi melalui Facebook, Bambang Prakuso pernah berkomunikasi dengan Pak Moeldoko, Kepala Unit Kerja Presiden. Beliau mengatakan sudah melakukan banyak cara untuk menekan aktivitas terorisme. Saya katakan, kita sulit menyadarkan teroris apalagi dengan Pancasila. Dengan agama pun tidak bisa, karena mereka mengikuti imam atau guru-guru mereka. Kiati macam apa pun tak akan mampu mengubah pola pikir mereka. Jika Pancasila dan agama pun tidak bisa, "Pertimbangkan mind power Pak," kata Bambang Prakuso. Pemerintah tidak banyak tahu tentang Mind power ini. Itu sebabnya kita sulit melaksanakan program Revolusi Mental.

Artikel Terkait

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jl. Kalibata I No.,17, Pancoran, Jakarta Selatan
081380642200 / 087775477733
081380642200
surfatalfateta@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2018 ALFATETA INDONESIA. Oleh Webpraktis.com | sitemap